Gue enggak terlalu paham sistem K2N atau KKN di kampus lain seperti apa. Yang gue dengar ada beberapa universitas yang memang mewajibkan mahasiswanya mengikuti KKN. Tapi tidak dengan kampus gue. Mungkin karena medan yang dituju merupakan daerah-daerah terpencil dan rawan, maka enggak semua mahasiswa bisa ikut. Seleksi pertama adalah kami semua wajib menulis essay mengenai salah satu pilihan pulau terluar, seleksi kedua adalah kami harus mengikuti wawancara. Setelah dua seleksi dilalui, mengikuti pengarahan, persiapan proposal, pembagian kelompok, pembagian pulau, maka masih ada seleksi ketiga.
Seleksi ketiga merupakan seleksi fisik dan kesehatan yang diadakan selama satu minggu di Surabaya. Tepatnya di ARMATIM (Armada Timur) Surabaya. Markasnya TNI AL. Bersama TNI AL. Jangan ngebayangin yang serem-serem dulu, karena seleksi fisik ini lebih kepada pelatihan disiplin dan mental bersama om-om TNI AL. Persiapan kita semua untuk bertahan di daerah-daerah perbatasan tersebut. Karena setelah seminggu disana, kami semua akan langsung diberangkatkan ke titik-titik yang akan dituju.
Kerjaannya adalah lari pagi jam 4 pagi, lari sore jam 4 sore. Kemudian ada kelas-kelas yang harus diikuti. Pengenalan tentang TNI AL. etc dst dkk dll.
Awalnya agak membosankan dan membuat gue berpikir 'daripada menghabiskan waktu seminggu disini lebih baik mematangkan proposal program kerja'. Setelah melewati hari ketiga baru lah melewati kelas yang paling seru dan menyenangkan. Persiapan yang paling seru menurut gue adalah ketika mengikuti sesi sea survival bersama KOPASKA (komando pasukan katak), pasukan elit-nya TNI AL. Kita disini bukan diajarkan untuk jadi yang paling jago berenang tetapi diajarkan bagaimana bertahan di laut. Misalkan ada kejadian yang tidak diinginkan seperti kapal karam, hilang di laut, etc. Hal ini erat kaitannya dengan medan yang dituju yang kebanyakan adalah pulau-pulau perbatasan yang untuk menjangkau pulau tersebut memang sulit.
Tiada Hari Tanpa Berenang!Sea survival-nya sih simple. Kita diajarin untuk bisa memahami bahwa tubuh manusia pada dasarnya bersahabat dengan air, jadi tidak semudah itu untuk tenggelam. Kuncinya satu: enggak boleh panik. Jadi kita pertama-tama diajarin untuk mengapung kemudian bertahap sampai loncat paku, water trapping, dan bagaimana membuat pelampung dari celana.

Yang sayangnya laut di Surabaya (tepatnya markas ARMATIM) itu sungguh penuh dengan oli. Jadi gue berenang di lautan oli! Butuh waktu yang cukup lama untuk menghilangkan bau oli di rambut gue dan badan gue. Sungguh pengalaman yang menarik.
Yang seru-nya adalah ketika lagi asik-asiknya berenang, tiba-tiba kita disuruh untuk segera naik ke dermaga karena kapal Dewa Ruci mau merapat. Wow! Menyaksikan langsung KRI Dewa Ruci yang baru saja pulang berkeliling dunia itu merupakan pengalaman yang once in a lifetime banget!


Dan bagaimana hasil seleksi terakhir selama di Surabaya?
Gue dinyatakan TIDAK LOLOS.
Serius.
Beneran.
Tapi kok gue tetep pergi?
Nah ini lah yang membuat gue menjadikan TNI AL dan KOPASKA sebagai pahlawan bagi kehidupan gue. Intinya adalah karena satu masalah gue dan empat orang teman gue sempat dinyatakan tidak akan diberangkatkan. Tetapi karena bargain dari TNI AL yang menganggap sangat tidak logis ketika ada peserta yang sudah mengikuti pelatihan di Surabaya akhirnya tidak jadi berangkat membuat gue mendapatkan kesempatan untuk berangkat dan menjadi peserta K2N. Walaupun tetap ada satu peserta yang tidak berangkat, itu pun karena dia sakit yang sangat parah.
So yeah, mimpi gue yang sudah gue pupuk sejak lama tidak jadi direbut oleh dementor of happiness. Maka petualangan yang sebenarnya baru akan dimulai ketika kami melangkahkan kaki keluar dari Surabaya.
Satu minggu di Surabaya yang tadinya gue anggap wasting time, ternyata meninggalkan bekas dan cerita yang cukup dalam sebagai awal petualangan gue ke depannya. Disini gue bisa mengenal lebih dalam mengenai Angkatan Laut Indonesia. Bahwa TNI AL bisa juga akrab dan ramah dengan masyarakat Indonesia. Apalagi, program ini bisa dikatakan didukung penuh oleh TNI AL. Tanpa dukungan penuh dari mereka, gue enggak percaya program ini bisa berjalan sebaik apa yang gue rasakan saat ini.
Bisa dikatakan belajar mengenal TNI AL lebih dalam adalah pelajaran pertama mengenal Indonesia yang lebih baik. Masih ada orang-orang yang mengorbankan jiwa raganya untuk melindungi keutuhan NKRI. Masih ada orang-orang yang mau dikirimkan ke pelosok, mengabdikan waktu hidupnya untuk memastikan ketahanan negeri ini dan keamanan masyarakat Indonesia. Dan dari mereka, gue belajar untuk bekerja tanpa pamrih.
Terimakasih TNI AL
Terimakasih KOPASKA
Sejak kejadian di ARMATIM, kalian resmi menjadi pahlawan di kehidupan gue.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar