....
ah, well, gue bingung bagaimana memulainya. Sesuai dengan judul di atas, ada banyak peristiwa yang terjadi dalam seminggu ini. Selain UAS yang susah-susah gampang dan gampang-gampang susah itu, gue mendapat waktu bonus lima hari untuk liburan sebelum menghadapi UAS terakhir hari Kamis ini. Namanya juga anak muda, lima hari kosong itu terbuang sia-sia. Sabtu gue seharian nonton film. Minggu gue tidur kaya kebo. Pas hari Senin gue udah niat mau belajar, tetapi karena Mbah Kakung gue (yang juga baru pulang dari rumah sakit) mulai sakit lagi... gue―sebagai tenaga yang bisa diperdayakan―mulai heboh kesana kemari menolong ibu dan Mbah Putri yang tentunya harus mendampingi Mbah Kakung. Baru malamnya sampai jam 2 pagi gue belajar baca-baca sambil bikin review dikit untuk mata kuliah SHI*.
Keesokan harinya, jam 6 pagi gue dibangunin oleh Bapak gue. Biasanya, kalau lagi libur terus dibangunin pagi-pagi gue cuman ngigo-ngigo bentar kemudian lanjut tidur lagi sampai jam 11 siang. Tapi hari itu gue langsung loncat lari ke kamar Mbah Kakung, dan... feeling serta semua jawaban dan harapan gue terjadi saat itu juga...
Selasa 26 Mei 2009 jam 06.15, Mbah Kakung, bapaknya ibu gue meninggal dipanggil oleh Yang Maha Kuasa. Saat itu, entah kenapa, gue berasa kayak robot pas disuruh nelpon-nelponin orang buat kasih kabar. Dan pas gue telpon Tante gue, adik paling kecilnya si Ibu, lidah gue kelu cuman buat ngomong, “Tan, Mbah Kakung meninggal,” yang ada gue akhirnya malah ngomong gini, “Tante... tante ke rumah tan, mbah.. tan.. mbah..,” dan Tante gue di seberang sana udah histeris sendiri.
Adegan-adegan selanjutnya enggak usah gue ceritain kali ya. Bahkan gue enggak sempat untuk merasakan sedih atau apa, karena kesedihan ibu gue serta saudara-saudaranya kemudian sepupu-sepupunya dan sepupu-sepupu gue yang satu kakek menutupi semua itu. Otomatis gue lah yang diperdayakan untuk mengurus ini dan itu, sebagai cucu yang paling tua (sisanya anak-anak kecil yang lari sana kemari). Mulai dari menerima tamu-tamu (baik saudara, kerabat, teman-teman keluarga), ngurusin makanan-minuman, bantu sana-sini, ngurusin bunga-bunga, gotong-gotong meja, gotong-gotong aqua, persiapan ke pemakaman, kemudian persiapan tahlilan malamnya... Baru mau duduk buat baca pelajaran sebentar, nama gue udah dipanggil-panggil. Untung banyak saudara-saudara yang ngebantuin.
Baru setelah selesai pemakaman, selesai tahlilan sampai malam, keluarga-keluarga sepupu Ibu gue mulai berpamitan malamnya, saat kesenyapan datang dan mencoba menulis untuk mengingat-ingat kenangan gue dengan Mbah Kakung... kesedihan itu baru datang.
Ada banyak hal yang terjadi dan terlewat begitu saja selama Mbah Kakung hidup, dan gue hampir 18 tahun ini hidup satu atap dengan Mbah Kakung dan Mbah Putri. Kenangan kolektif yang bakal terus diingat adalah ketika kecil dulu dibacakan cerita Three little pigs, hobi Mbah Kakung di bidang pertukangan, saat pertama kali gue belajar bahasa Jepang waktu SMP pertanyaan pertama dari Mbah Kakung adalah, “kamu punya televisi berwarna?” tentu saja dalam bahasa jepang tapi gue lupa apaan bahasa Jepangnya (maklum gue enggak fokus belajarnya, masih dalam taraf ikut-ikutan),
kemudian kenangan selama beberapa tahun terakhir ini adalah ketika masa-masa Mbah Kakung akhirnya mulai memakai kursi roda... gue biasanya yang mendorong Mbah Kakung kembali ke kamarnya bila tertidur di depan tv tengah malam, atau ketika sudah hampir pagi dan Mbah Kakung masih terjaga di depan tv tidak jelas menonton acara apa, gue yang akhir-akhir ini membantu membenarkan posisi Mbah Kakung tidur yang sudah mulai berantakan. Terkadang gue mengisi toples biskuit regalnya, biskuit kesukaan Mbah Kakung. Atau ketika tengah malam gue membuat mie rebus, gue memberikan sebagian untuk Mbah Kakung makan.
Justru ketika gue mengingat-ingat kembali, gue malah menjadi sedih dan sedikit kehilangan. Tetapi gue tahu, bahwa manusia adalah milik Allah SWT dan suatu saat pasti akan kembali kepadaNya. Sudah cukup hidup Mbah Kakung dan memang sudah saatnya beliau untuk kembali pulang. Gue malah enggak tega terus-terusan melihat kondisi Mbah Kakung yang kian lama menjadi kritis, mungkin memang sudah jalan yang terbaik seperti ini....
Begitulah kehebohan yang sedang terjadi di rumah gue. Selama tiga hari ini tahlilan kemudian baru dimulai kembali saat tujuh harian sembari menunggu sepupu gue, Yugo, pulang dari NY. Bagi kawan-kawan sekalian yang ingin berkunjung *ehem ehem*, tahlilannya dimulai setelah Maghrib ya. Kalau mau datang siangnya juga silahkan... :)
***
Anyho, entah kenapa, beberapa postingan terakhir ini kok sedih-sedih semua ya?? Kayaknya gue sedikit kehilangan sense of writing gue. Makanya gue lagi males untuk nulis lagi karena gue lagi sebel sama hasil tulisan gue sendiri. Selesai UAS ini hal yang pertama kali gue lakukan tentu aja berbenah diri serta memanjakan diri. Berhubung TV gue yang dikamar sudah kembali lagi, gue mau mengurung diri di kamar sembari menonton film-film. Setelah itu membaca buku-buku yang sudah bertumpuk minta dibaca.
Baru deh gue ngurusin segala kepanitiaan dan tetek bengeknya itu... hahaha...
Ah holidaaaaaayyy!!!
*SHI: Sistem Hukum Indonesia
[currently listening: BLUE IN GREEN
currently reading: when I whistle-Shusaku Endo]
currently reading: when I whistle-Shusaku Endo]

3 komentar:
tami.. turut berduka cita ya..
semoga sekeluarga diberikan ketabahan..
semoga eyang kakung lo diterima di sisi-Nya yg paling layak. Amin.
makasih indah sayang :)
amin.
gw juga cucu tertua. tinggal bareng kakek-nenek juga. tapi yg make kursi roda itu nenek gw (kadang-kadang sih). nenek gw juga suka biskuit regal.
aaaaaaaargh..
ehem.. turut berduka, ya tam..
T__T
Posting Komentar