5.16.2009

enough is enough

Kelas Sistem Politik Indonesia
bersama mas Eep Saefullah Fatah
Our last session :)



Kemarin malam gue mencoba untuk menulis dan enggak tau kenapa susah banget ingin mendeskripsikannya seperti apa. Walhasil, terciptalah sebuah tulisan tanggung yang dilanjutin udah enggak bisa tapi kalau enggak diposting sayang.

#1
“...Think said and done. But, not about this one. This could be one of my unfinished story or untold feeling. I don’t know how it started and I still have no idea how it will end. And this conversation truly shows that I am still confused with that person―eventhough how smart I am don’t let other people know about this awkward feeling.
The conversation between me and my friend was talking about how strong an old love could be.

And something pops in my mind... why I usually have a feeling with a boy who already has a girlfriend? It, actually, proved that I am a risktaker???....”

#2

“...jujur, gue bingung banget mau nulis apaan...
saking banyaknya kejadian yang terjadi di sekitar gue, jadinya gue enggak bisa merangkum semua dengan kata-kata. Daritadi kerjaannya ngetik panjaaaang abis itu gue hapus. Coba tulis semua dari awal, enggak sreg, di apus lagi. Geez, susah banget sih buat mengungkapkannya!

Intinya sih, gue udah bangkit dari masalah gue kemarin. Menulis itu punya efek menyembuhkan, dan gue udah lumayan lega karenanya.
Dua hari ini juga lumayan menyenangkan. Terutama sih hari jumat, ohohoho. Ada lah sebuah kejadian yang bisa bikin gue jingkrak-jingkrak. Emang bener kalau setelah melewati masa-masa sulit biasanya akan menemukan sesuatu yang bikin bahagia. :)...”


Seperti itulah, hmm..
Di tulisan #1 itu, tentang ‘untold feeling’ dan ‘unfinished story’. Well, enggak segitunya juga sih gue desperate suka sama orang. Semenjak 2009, gue udah menyadari banyak hal kalau orang itu emang bukan buat gue. Karena gue emang enggak cocok buat dia, dan dia bukanlah yang terbaik untuk gue pilih. Hahaha
Kemudian, tentang ‘a boy who already has a girlfriend’... ergh it irritating me sometimes when I realize that the truth is hitting me. Mau sedeket apapun gue sama dia (walaupun indikasi kedekatannya itu belum kaya gue dan sahabat-sahabat gue), mau sebaik apapun dia sama gue, mau se-care apapun dia sama gue, yah... because we are friends. Kayaknya gue emang selalu salah dalam menyukai orang ya. Orangnya selalu enggak pas. Istilahnya ‘kayak ngomong sama tembok’, mau elo seberusaha sekeras apapun untuk ngedekatin dia.. dianya udah punya yang ‘lain’ juga..
Enough is enough, Tam.

Tulisan #2, tentang ‘kejadian yang bisa bikin gue jingkrak-jingkrak’ itu berhubungan erat dengan ‘a boy who already has a girlfriend’. Emang gue risktaker kali ya. Tapi yasudahlah, enough is enough.

Oke, mari kita lupakan semua masalah ‘gak penting’ di atas. Karena masalah ‘terpenting’ saat ini yang harus gue hadapi adalah: UAS!
Yeah, di saat semua orang masih sibuk dengan UTS segala macemnya minggu lalu. Dalam hati gue cuman bisa bilang ‘gue UAS minggu depan, monyong’. Dalam lima hari UAS dengan 8 mata kuliah yang harus diujikan, gue akan berjuang mati-matian untuk mendapatkan nilai yang terbaik. Terutama SSI* ya, gue masih sakit hati nilai UTS gue enggak sebanding dengan apa yang gue harapkan. Dan tak lupa dengan mata kuliah lainnya yang saat UTS sudah dapat nilai oke, tentunya akan gue pertegas dengan nilai UAS kali ini.
Bener kata temen gue, lima hari UAS enggak sebanding dengan tiga bulan liburan! What!? Three months!? Makanya gue merasa bahagia banget udah UAS. Walaupun gue enggak tahu gimana deh nanti ujiannya kayak apa. Ohohoho..

Doakan gue ya, guys!
Semangat buat kalian semua yang juga mau UAS juga :)



*SSI: Sistem Sosial Indonesia



[currently listening: Sergio Mendez- Please Baby
currently reading: not reading yet haha]

2 komentar:

fika farikha mengatakan...

uhuhuhu...ada si 'dia' nohh...


aiiiii...nggak nahaaan...ahahahaha

tammi prasetyo mengatakan...

centiiiiiiiiilllll!!!
aahahahahaaaaa :D

 
;