
ini salah satu cerpen gue.
gak tau bagus atau enggak.
udah lama gak bikin soalnya.
soal komentar, silahkan anda layangkan.. :D
Alunan suara harmonika itu terdengar di sela-sela deburan ombak. Seakan berkolaborasi membentuk sebuah lagu tanpa judul. Matanya memejam seolah-olah dia sedang berada di dunia lain, di dunianya sendiri. Rambutnya terkibar-kibar dipermainkan oleh angin pantai yang liar.
Dirinya tidak sadar aku amati. Duduk hanya berjarak tiga meter dan memandangi wajahnya dari samping. Sudah hampir 15 menit aku dan dia duduk bersama. 15 menit yang terasa seperti selamanya. Waktu yang terhenti dan seolah-olah berputar di kepalaku.
Aku menatap ke arah laut yang ramai. Ombak saling berkejaran seperti sepasang kekasih yang dimabuk cinta. Burung camar terbang melayang rendah di atas permukaan laut, mengintai sesuatu yang tak bisa kupahami. Langit berwarna biru cerah, hampir-hampir tidak bisa kubedakan dengan permukaan laut yang juga berwarna biru cerah. Seakan-akan mereka adalah cermin bagi satu sama lain. Matahari yang bersinar dengan gagah, membuat permukaan laut terlihat gemerlap.
Menatap laut yang ramai menenangkan hatiku. Tempat peristirahatan jiwaku, walau seribu kali aku telah mengunjunginya.
Tapi kali ini merupakan pengalaman pertama bagiku. Aku tidak sendirian. Ditemani oleh seseorang dan alunan harmonikanya. Suasana ini tidak terasa asing bagiku. Justru mereka menjadi pelengkap dan dalam imajinasiku mereka melebur menjadi satu kesatuan yang nyaris sempurna.
Perlahan-lahan suara alunan harmonika itu berhenti. Membuatku terpaksa menoleh ke arahnya. Orang itu masih terus memejamkan matanya, menghirup udara sedalam-dalamnya dan tersenyum sendiri.
Kemudian matanya terbuka dan menatap lurus ke arah laut. Sebuah sunggingan terbentuk di bibirnya. Sosok yang harusnya terasa baru malah terlihat tidak asing di hadapanku. Mata itu pelan-pelan menoleh ke arahku dan menatap langsung ke dalam bola mataku. Sorot yang jenaka dan akrab.
Aku membalas senyumnya. Tanpa suara kami saling menyebutkan nama dan berkenalan melalui hati kami. Mulut kami diam tak bergerak, hanya hati kami yang berbicara satu sama lain. Menggunakan bahasa kalbu yang tidak dapat didengar oleh telinga.
Di suatu hari yang aneh. Nasib membawa kami bertemu dan berkenalan. Memandang laut yang ramai dalam diam. Berbagi cerita melalui hati. Dan dia mulai meniup kembali harmonikanya. Berduet dengan deburan ombak menghasilkan harmonisasi yang indah. Satu jam yang terasa seperti selamanya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar