6.19.2012

Hanya Berputar Untuk Kembali ke Rute yang Sama

Kalimat pertama itu selalu sulit untuk dimulai. Terutama setelah sekian bulan blog yang pernah (dan akan terus) menjadi hidup saya sempat mati suri. Sebelumnya enggak pernah sama sekali berpikir untuk me'mati'kan blog ini dalam jangka waktu. Toh, hidup tidak selamanya naif seperti yang apa gue pikirkan. Tapi akhirnya saat yang ditunggu tiba, maka detik ini merupakan perayaan setelah sekian lama tidak menulis kembali secara bebas.

Apa kabar?
Saking banyaknya yang ingin diceritakan jadi bingung mau mulai darimana. Oke mungkin lanjutan di postingan terakhir. Day 3 #NoComplaintWeek tertulis mengenai jadwal sidang outline saya yang tertunda-tunda. Disitu gue pun secara jelas menuliskan kalau sedang skripsi adaaaaaa aja halangannya. Dan, yes, hal itu gue alamin sendiri saat ini. Di saat beberapa orang terdekat gue sudah melewati masa sidang dan meraih gelar sarjana-nya, gue harus menunda kelulusan satu semester. Skripsi gue udah selesai, namun masih dianggap belum layak sidang. Ini terkait dengan kombinasi sifat dosen pembimbing gue yang super perfeksionis namun bertemu realita kalau beliau sendiri tidak punya waktu untuk membaca dan memeriksa skripsi saya agar memenuhi standar beliau. Ditambah lagi deadline jurusan gue yang lebih cepat satu setengah bulan dibandingkan jurusan lain.
Who I should blame? Well, I blame nobody. Mungkin memang sudah harus jalannya begini. Perasaan sakit hati itu ada, tapi entah kenapa tidak berlebihan.
Yang nasib jadi mahasiswa kuliah lebih dari 4 tahun pun ternyata ga cuman gue seorang, tapi ada juga Rini, salah satu temen gue anak Psikologi yang dulu serumah pas k2n. Suatu malam dia sampe nge bbm gue buat curhat permasalahan skripsinya yang ga di acc pembimbingnya. Di tengah-tengah upaya gue untuk menghibur, keluar kalimat yang gue sendiri tadinya enggak berpikiran seperti itu..

"Mungkin apa yg udh kita anggap matang itu justru kurang persiapannya. Rin, sakit bgt emg ditolak pembimbing. Ga bisa sidang di saat temen2 lo sidang. ga bisa wisuda padahal lo pengen bgt di balairung bareng temen2 lo. Tapi ga bisa sat ini, bukan berarti ga bisa untuk selamanya. Ini cuman semacam 'tertunda' aja, hak yg sama yg seharusnya lo dapet seperti orang2 lainnya. Gue akhirnya mikir seperti itu setelah penggalauan panjang. Dan gue memutuskan untuk ga down terlalu lama dan memilih buat ngebantuin persiapan sidang temen2 gue. Ngebantuin mereka, nge-support dan apapun itu bentuknya. Di saat gue seharusnya ngerasa iri tapi gue malah seneng2 aja ngebantuin persiapan sidang temen2 gue. Haha aneh emang."

"Wajar kalau nangis rin. Sedih banged ya lo. *peluk*. Its not the end of the world, trust me. Pada akhirnya kelulusan itu just one of our milestone in our life. Ini ketunda aja rini, bukan berarti ga bakal kita lewatin. Kita harus lewat jalan berputar untuk masuk ke rute yg sama." 

Yah walaupun gue bisa mengatakan hal-hal seperti itu, tetep aja gak gue pungkiri kalau sedih banget rasanya kalau ada sahabat-sahabat gue yang nanyain gue sidang kapan, atau seperti contohnya sahabat terdekat gue baru saja selesai sidang kemarin.. Rasanya kayak ditinggalin haha.
Beruntungnya adalah, gue masih punya orang tua yang supportif dengan kondisi gue saat ini. Mereka bisa nerima dan ngerti kondisi kenapa akhirnya skripsi yang sudah dikerjakan tidak bisa sidang.

So, buat semua mahasiswa dimanapun kalian berada (terutama angkatan 2008), selamat buat kalian yang sudah bisa mendapatkan gelar sarjana. Itu hanya tahap pertama sebelum masuk ke dunia yang sesungguhnya. Buat mereka yang keberuntungannya belum bisa diraih (tidak bisa lulus semester ini), just trust me... it will come someday. Hingga sejauh mana kalian memperjuangkannya. Seperti kata salah seorang senior gue, kelulusan itu adalah hak bagi setiap mahasiswa kok. Ya tapi, skripsi itu adalah kewajibannya. Gue udah nyelesain skripsi gue, maka hak itu harus gue perjuangkan untuk bisa didapat.
:)

Tidak ada komentar:

 
;