Setelah gue sadari ternyata berhenti untuk mengeluh itu tidak semudah seperti apa yang gue bayangkan. Hari kedua dan gue masih belum nemuin cara untuk menghentikan kebiasaan untuk mengumpat atau mengeluh. Sepanjang pagi hingga siang sih semua berjalan lancar jaya.
Pagi hari diawali dengan hujan disyukuri dengan sepenuh hati karena ada alasan untuk menambah jam tidur. Siang hari di Depok juga hujan dan menertawakan seseorang yang menunda-nunda waktu berangkat ke kampus sehingga akhirnya terjebak hujan.
Tantangan hari ini muncul ketika gue memutuskan untuk menemui dosen pembimbing gue untuk mengingatkan kalau mahasiswa bimbingannya besok akan sidang outline. Fyi, dosen pembimbing gue ini termasuk salah satu dosen yang enggak diragukan lagi kemampuannya. Terutama dalam kajian politik wilayah Amerika Latin. Secara skripsi gue juga ngebahas tentang gerakan sosial dan partai di Brazil. Nah, khasnya dapet dosen pembimbing bagus adalah lo harus siap dengan kondisi dia yang super sibuk dan kondisi tambahan dosen pembimbing gue yang kondisi kesehatannya enggak terlalu baik. Di sms dan di telpon lumayan susah, bikin janji pun harus tebak-tebak buah manggis jadwal kegiatan dia selama satu minggu. Sebenarnya untuk Rabu ini si mas dosen udah oke untuk sidang outline tetapi tetap dengan bumbu-bumbu "nanti ingatin saya lagi, ya".
Nah makanya siang itu sebelum makan siang isenglah gue main ke ruangan dia. Pas banget ketemu sama beliau yang lagi mau sholat sehabis kelas. Mukanya terlihat kaget ngeliat gue. Sebelum gue ngomong dia udah ngomong duluan, "Tami, besok saya harus ke Rumah Sakit buat cek darah nih. Kondisi tubuh saya lagi drop. Nanti saya telpon (dia menyebutkan nama kepala prodi gue) ya buat ganti jadwal."
I was like… oh I knew it. Entah kenapa dari kemarin ada semacam feeling kalau pasti sidang outline bakal diundur. Maka sambil senyum dan bilang semoga lekas sembuh, gue memutuskan untuk ke jurusan untuk memberitahu si mas kepala prodi dan si mbak sekretarisnya.
Gue sih udah pasrah dan mau gimana lagi masa dosen lagi sakit dipaksa buat nyidang outline skripsi gue. Tapi yang bikin kelepasan buat ngeluuuuuh adalah ketika tau reaksi dari jurusan yang sama sekali enggak ngebantu dan nyari solusi ganti jadwal. Malahan mereka nyuruh gue untuk nyari jadwal sendiri dengan pilihan hari yang sama sekali gak solutif. Tadinya sih gue bertahan untuk enggak ngeluh dan memberitahu kabar ini ke teman seperjuangan sesama dosen pembimbing, si Diba. Tapi mungkin karena mood udah terlanjur jelek, jadi pas di takor akhirnya cuman bisa cemberut diam aja di antara kerumunan teman-teman. Sampai ada satu orang yang nyeletuk, "kenapa sih Tami, lagi ada masalah ya? Curhat aja sini. Eh tapi kalau curhat jatuhnya ngeluh ya? Hehe kan lagi gaboleh ngeluh". Dan entah kenapa jadi terhibur sendiri dan ketawa-ketawa lagi. Emang bagusnya mengumbar-ngumbar ikutan #NoComplaintWeek adalah semua orang jadi notice dan mengingatkan gue untuk tetap bertahan untuk enggak ngeluh. :D
Menyenangkannya hari ini adalah karena tim futsal kesayangan gue menang 8-3 dari lawannya. Horeee.. Jadi tinggal satu pertandingan lagi untuk menentukan lolos atau tidak dari penyisihan grup.
So far, ikutan #NoComplaintWeek ini menyadarkan gue kalau ternyata selama ini seriiiiiiiing banget ngeluh. Mungkin kunci-nya harus beryukur dan mencoba berpikir positif apapun situasinya. Jadi tadi sepulang dari kampus gue pun menyenangkan hati gue dengan membeli McFlurry Oreo Orange. Bahagia itu sederhana memang :”)
Ayo Tami, masih ada 5 hari lagi!
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar