Sebelum ke pulau Ende, kita harus naik perahu rakyat yang bernama 'Al-Amin' untuk menyebrang dari kabupaten Ende. This was our first time and awkwardly memakai si pelampung oranye itu. Otomatis mau enggak mau seluruh penumpang menatap kami dengan tatapan aneh dan menahan tawa sepanjang perjalanan 1,5 jam membelah laut Sawu.
Salah satu program rutin yang harus dikerjakan adalah 'Rumah Kreatif'. Semacam membuat rumah baca merangkap meeting point untuk berkumpul dan mengajarkan berbagai macam game yang edukatif ke anak-anak di sana. Ini kali pertama kami berkenalan dengan bocah-bocah bandel yang saat ini ngangenin.

Its me. Si kuncen dari markas geng Ende kece alias Rumah Kreatif. Lokasinya dibuat di desa tempat gue tinggal, otomatis gue yang bertanggung jawab memegang kunci dan segala macem. I miss being around in this house. Killing time, playing chess with some kids, laughing, singing, reading novels and all.

Di pulau tapi enggak minum air kelapa itu rasanya aneh. Sayangnya (sebenarnya) kita semua dilarang untuk minum air kelapa karena katanya bisa melemahkan sistem imun dan membuat gampang terserang penyakit, padahal kita butuh fisik yang kuat selama menjalani hari-hari disana. Tetapi larangan tersebut tetap tidak terlalu berlaku. Apalagi tawaran minum air kelapa langsung dari buah yang baru saja diambil langsung dari pohonnya di udara yang terik setelah keliling pulau menggunakan perahu. Tentu gue enggak bisa menolak tawaran itu kan :D
Di pulau yang penduduknya mayoritas muslim, mau tidak mau perempuannya (wajib) memakai kerudung. Gue kadang-kadang menggunakan kerudung demi kesopanan dan menghormati adat setempat. Salah satu program yang dijalankan oleh kelompok kami adalah posyandu lansia. I was at my duty checking every-elderly dan orang yang di sebelah gue ini somehow annoyed me so much. So thats why muka gue agak terlihat bete begitu. Hihi.

Pantai itu ibaratnya halaman belakang rumah kami. Tapi di pantai yang ini kita perlu berjalan sekitar 20 menitan untuk menuju Tanjung Rah. Dengan kontur bebatuan yang lumayan sulit untuk ditempuh tetapi sangat menyenangkan menghabiskan sore bermain di laut seperti ini. And thats virgin beach is amazingly beautiful.
Pergi jauh dari Jakarta itu sama dengan meninggalkan image Tami yang selama ini orang-orang kenal. Ini adalah Tami yang berbeda. I love being messy sometimes, playful, kind of boyish and free. Dan waktu selama tidak di Jakarta benar-benar gue pergunakan untuk berdandan seperti ini yang enggak bakal gue lakuin selama di Jakarta. Kain dan kantung itu gue dapatkan di pasar di kabupaten Ende dengan harga yang cukup murah. :D
Foto ini diambil di kota Maumere, di sebuah rumah sosial milik gereja Katolik bekas tempat penampungan korban bencana yang pernah terjadi di sana (kalau tidak salah). Kami berfoto bersama suster yang sangat baik hati menampung dan memberikan makan siang gratis bagi kelompok mahasiswa yang terlantar ini. Berada di wilayah yang mayoritas penduduknya Katolik, sehabis k2n di pulau yang mayoritas penduduknya muslim, membuat kami sangat gerah dengan masalah sentimen agama disini. Tapi foto ini menggambarkan apa yang bisa gue sebut sebagai rasa kemanusiaan di atas segalanya. Enggak banyak orang yang bisa memahami bahwa ada yang lebih penting dari sekedar apa identitas kamu, tetapi mengesampingkan itu semua demi rasa kemanusiaan.
Senja terakhir di Kupang sebelum keesokan harinya kami akan terbang kembali ke Jakarta. Bisa dibilang ini salah satu matahari dan langit sore terbaik yang pernah gue lihat. Laut memerah keunguan perlahan. Angin laut yang sepoi-sepoi. Laut yang tenang.
Indonesia itu indah ya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar