1.31.2012

On the night like . . .

And at night I love to listen to the stars. It is like five hundred million little bells.
- Antoine de Saint Exupéry, The Little Prince

Malam itu bukanlah malam-malam biasa yang gue lalui. Salah satu malam istimewa yang pernah ada. Berada di tengah laut Flores menuju salah satu daerah di Timur Indonesia yang untuk pertama kali udaranya gue hirup. Malam itu sepi dan gelap, sebagian orang memilih berada di dalam ruangan karena dinginnya angin laut dan memang sudah pukul 10 malam, waktu untuk istirahat malam. Berbeda dengan yang lain, malam itu gue memilih berada di Helipad. Ada dua alasan kenapa gue berani menerjang dinginnya malam padahal sedang diserang sakit tenggorokan dan flu hebat. Yang pertama adalah mencari sinyal handphone demi membalas sms seseorang yang berada di Jawa sana. Yang kedua hamparan langit bertaburan bintang itu adalah suatu pemandangan yang jarang dinikmati oleh mata si anak yang besar di kota besar macam Jakarta.
Dan malam itu gue enggak sendirian.

Ditemani dengan dia, malam itu jadi terasa singkat untuk dilalui. Menyenangkannya dia merupakan teman mengobrol yang asik. Ditemani deburan ombak, ditiup oleh angin laut malam yang dingin, serta diselingi batuk-batuk hebat (karena sama-sama sedang sakit). Perjalanan ke Timur, bagi gue pribadi, merupakan perjalanan spiritual dan pencarian atas kepingan puzzle yang harus gue susun. Dengan dia, kepingan puzzle itu terlengkapi. Karena gue menemukan sosok untuk berbagi cerita yang selama ini tersembunyi. Entah cerita apa saja yang sudah mengalir selama di atas helipad. Tentang rasa patah hati, tentang harapan baru, pencarian, dan apa yang akan kami temui di titik yang akan kami temukan masing-masing. Dan di atas helipad itu kami berjanji akan bertukar kabar ketika kami bertemu kembali.

Lucunya, hingga saat ini, ketika malam menjelang, lampu kamar dimatikan dan hanya gue si kalong dengan bantuan teknologi menghabiskan waktu. Orang itu adalah salah satu dari sekian banyak orang yang akan menyapa di ruang yahoo messenger. Dan setiap kali mengobrol malam-malam seperti itu, mau tidak mau, bayangan KRI, suara deburan ombak lengkap dengan hamparan bintang di atas kepala kembali teringat. Dan kami hanya tertawa mengingat masa-masa itu.
Ceritanya sudah banyak berubah. Dia sudah berhasil lepas dari bayangan masa lalu dan menemukan masa depan. Sementara gue terjerat dengan orang yang disebut si masa ini, entah akan menjadi masa depan atau masa lalu.
:D

Tidak ada komentar:

 
;