Mulai dari deadline Bab.1 skripsi tanggal 31 Oktober, Olimfis 2011, kematian Steve Jobs dan my secret relationship with you-know-who.
Untuk Olimfis 2011, tahun terakhir gue berpartisipasi mendukung kontingen jurusan gue mi familio politic. Walaupun sudah berniat pensiun dini, tapi ternyata gue enggak bisa melepaskan hati untuk dua cabang favorit gue. Futsal dan tenis meja. Yah, futsal walaupun regenerasinya sudah banyak dan bagus-bagus, walaupun sudah dilarang sama si abang satu itu, tetep aja dengan bujuk rayu sedikit oleh beberapa orang maka gue memutuskan untuk tetap bermain futsal. Kalau tenis meja sih sesuai tebak-tebak buah manggis belum ada atlet cewek di jurusan gue yang bisa main. Gue enggak jago-jago amat, namun cukup bisa mainlah.
Di ajang adu otot ini lah gue bisa melihat jurusan dan keluarga politik ini makin menunjukan militansinya. Selain secara kuantitas sudah membengkak tiga kali lipat daripada umumnya, gue cuman berharap segi kualitas juga ikutan membengkak sampai lima kali lipat. Buat apa jumlah banyak tapi enggak bisa berbuat apa-apa. Lucu rasanya melihat apa yang gue perjuangkan tahun lalu bersama kawan-kawan seperjuangan mulai terlihat hasilnya sedikit-sedikit. Well, it’s a lifetime process anyway. Masih belum bisa ditarik kesimpulan. Tantangan sebenarnya adalah ketika memasuki tahun ketiga HMIP selepas gue turun jabatan. Apakah bertahan, menyusut atau makin bersinar. Tentu saja semoga yang terakhir jawabannya.
Antara Bab.1 skripsi dan kematian Steve Jobs. I’m not Apple product user. Tapi ada satu quote Steve Jobs yang akan lekat erat di otak gue, yaitu:
“Your time is limited, so don't waste it living someone else's life. Don't be trapped by dogma - which is living with the results of other people's thinking. Don't let the noise of other's opinions drown out your own inner voice. And most important, have the courage to follow your heart and intuition. They somehow already know what you truly want to become. Everything else is secondary.” Steve Jobs
Saat ini sebagai mahasiswa tingkat akhir ada satu tugas yang harus gue selesaikan untuk mendapat gelar sarjana gue, yaitu menulis skripsi. Satu hal yang paling sulit gue lakukan adalah menemukan apa yang gue mau. Dalam hal ini adalah topik apa yang ingin gue kupas tuntas habis dikuliti tidak bersisa untuk skripsi gue. Sampai kabur segala ke Flores (haha) supaya tidak dituntut oleh siapapun dengan pertanyaan “Apa tema skripsi-mu?.” Tetapi sejauh itu pergi ternyata harus pulang kembali dan menyelesaikan reading course (referensi ilmiah, syarat skripsi). Yang intinya dengan penuh paksaan gue menemukan topik apa yang gue mau.
Terlepas dari topik apapun yang gue bahas (dan alhamdulilah gue sudah menemukannya, semoga lancar tidak ada halangan), proses pencarian ini menjadi perjalanan tersendiri bagi gue.
Kenapa gue begitu sulit menemukan topik yang gue mau. Karena gue tidak mau setengah-setengah menulis skripsi gue. Gue mempertanyakan lagi posisi dan peran gue sebagai mahasiswa. Apa yang sudah gue lakukan selama ini. Apa yang akan gue lakukan untuk memutuskan peran gue sebagai mahasiswa. Eksistensi gue sebagai mahasiswa yang terangkum dalam sebuah skripsi. Maka penting bagi gue memilih topik skripsi yang sesuai dengan hati dan passion gue.
Ibaratnya, ini adalah proses jatuh cinta. Apakah gue yakin. Ketika gue sudah yakin. Gue harus membangun sebuah hubungan intim dengan skripsi ini selama satu tahun ke depan. Akan ada jatuh bangun, susah senang, tangis bahagia dalam prosesnya (I believe). Dan gue enggak mau mengerjakan sesuatu yang tidak dari hati untuk sesuatu yang se sakral ini. Menulis itu adalah proses mencari dan menemukan. Termasuk menulis skripsi.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar