[Senja Pulau Ende, 24 Juni 2011]
Time is a companion that goes with us on a journey, it remind us to cherish each moment, because it will never come again. What we leave behind is not as important as we have lived..
- Jean Luc Picard
Mungkin pada titik tertentu di masa perjalanan panjang hidup seseorang, akan ada titik dimana kita mulai mempertanyakan keimanan kita.
Gue sebagai seseorang yang selama ini mengalami pembagian hidup 80% duniawi, 20% rohani, tidak bisa dikatakan sebagai seorang muslim yang baik. Iya, gue Islam. Tetapi gue belum menjadi Islam yang bisa dikatakan sesungguhnya Islam. Ada masa-masa dimana gue sangat butuh Tuhan, tetapi ada masa dimana gue memiliki jarak tersendiri.
Kabur.
Istilah yang tepat.
Pura-pura tidak tahu, lebih tepatnya lagi. Bahwa gue tidak bisa selamanya tidak peduli atau menjaga jarak. Bahwa permainan petak umpet ini akan memiliki akhirnya dan pada masa ini lah diri gue berhasil 'tertangkap basah'.
Perjalanan ke Pulau Ende kemarin bisa dikatakan merupakan perjalanan rohani gue. Dimasukan ke dalam pulau yang 100% muslim, semua perempuan memakai kerudung, kebanyakan teman gue bukan hanya rajin sholat-nya tetapi mereka juga rajin tadarus etc etc.. Bahkan sebelum perjalanan dimulai, gue merasa tangan Tuhan banyak menyelamatkan gue.
Mau tidak mau ketika ada seseorang yang bertanya 'apakah kamu Islam?' atau 'kenapa kamu belum memakai kerudung?' seperti Allah SWT sendiri yang bertanya kepada gue. Proses-nya seperti apa, gue enggak bisa cerita banyak. Kebanyakan pertanyaan itu muncul di saat-saat yang biasa saja, namun tidak terduga. Lebih tepatnya melalui orang-orang yang tidak gue duga. Seperti... anak kecil yang sudah terbiasa main bersama gue misalkan.
Efeknya tidak terasa pada saat itu juga. Tetapi ketika gue pulang kembali ke Jakarta dan tiba lah bulan Ramadhan. Ada sesuatu yang berbeda dari Ramadhan tahun ini. Berkah yang paling terasa adalah ketika baba angkat gue selalu rajin sms untuk mengingatkan sahur dan mengucapkan selamat berbuka puasa. Almost everyday. Menyenangkan rasanya memiliki keluarga baru. :)
Ketika gue juga telfon-telfonan dengan anak-anak kecil disana, pertanyaan utama mereka adalah 'kakak puasa hari ini?' atau 'kakak tarawih tidak?' dan 'kakak hari ini aku tadarus sampai malam' yang paling bikin pengen ngais tanah 'ayo kakak lebaran di pulau saja. kalau enggak bisa, tahun depan kakak puasa di pulau ya'.
I miss them so much.
Hal-hal sederhana ini lah yang begitu kuat melekat dan mengikat. Dan gue lebih memaknai ramadhan tahun ini. Ada banyak hal yang membuat gue bersyukur. Seperti air yang melimpah di Jakarta, sampai banjir segala, padahal ada banyak pulau-pulau yang untuk sekedar mandi aja susah. Atau banyaknya orang yang sayang dan perhatian sama gue, dengan sms-sms tiada henti misalkan untuk sekedar mengingatkan sahur dan buka. Dan banyak hal lainnya yang membuat gue berpikir bahwa Allah SWT sangat sayang sama gue dengan memberikan begitu banyak cobaan serta limpahan kasih sayang seperti ini.
Semoga ibadah yang sedang dalam proses diperbaiki ini akan terus bertahan hingga ke depannya. Selama ini mood gue selalu on-off dalam melakukan sesuatu, termasuk ibadah. Tapi hingga satu titik, gue tahu bahkan perhatian Allah SWT untuk gue tidak pernah berhenti...kenapa gue selalu berhenti?
Sedikit kontemplasi sebelum hari raya Idul Fitri. Sebelum memasuki bulan lainnya dan sebelum bertemu bulan Ramadhan di tahun depan. Terlebih lagi dengan kondisi hati yang sedang 'confusing but gets more interesting day by day'.
Ah baiklah..
Minal aidin wal faidzin
Mohon maaf lahir dan bathin
Allah SWT akan selalu ada di hati kita
:)

1 komentar:
sepertinya perjalanan ke Ende kemarin berkesan banget ya Tam?
mumpung suasana Lebaran mau sekalian ngucapin mohon maaf lahir dan batin :)
Posting Komentar