Kalau ibaratnya musik adalah bahasa, ini adalah bahasa yang tidak harus dimengerti secara lisan tapi bahasa yang dibaca dari hati ke hati. Dengan musik gue percaya seluruh tembok perbedaan itu runtuh. Dan gue menemukan kesenangan dalam setiap menikmati perhelatan Jazz apapun, baik JJF ataupun JakJazz. Sayangnya, JakJazz udah enggak ada lagi. Jadinya mau enggak mau pasti datangnya ke JJF. Dan dibandingkan nonton penampilan dari artis-artis dalam negeri, gue lebih prefer nonton penampilan artis-artis dari manca negara. Bukannya enggak mencintai musik dalam negeri, cuman kemungkinan menonton mereka (artis dalam negeri) itu lebih besar dibandingkan menonton artis-artis manca negara lainnya. Gue lebih prefer mendengar musik atau artis yang baru gue dengar sama sekali dan berbicara melalui musik mereka. Tetapi bukan berarti kemarin gue enggak nonton yang dalam negeri sama sekali, lho.
Tahun lalu gue pergi ke JJF bareng sepupu-sepupu gue yang sama sekali enggak suka Jazz. Berhubung sinyal eror dan segala macem, jadinya gue enggak bisa misah dengan mereka. Ergh, my very first bad experience in music festival. Makanya tahun ini gue pergi bareng adek gue yang baru pertama kali dateng ke JJF dan berhasil gue racunin musik-musik Jazz. Supaya enggak rugi, maka gue pun membuat jadwal dan list apa aja yang harus ditonton. Emang dasar banyak mau-nya ada sekitar 15 performances yang gue list. Tapi namanya juga manusia bukan amoeba, jadinya juga cuman beberapa yang bisa ditonton. But it was great!
Apa aja yang gue tonton?
Sondre Lerche
Alasan kenapa sengaja berangkat sore dari rumah supaya enggak kena macet dan antrian yang panjang adalah karena si ganteng yang satu ini main jam 17.30. Walaupun sempat telat masuknya dan udah rame banget di B1 Nokia Hall, tetep enggak rugi. Emang sih gue cuman tau tiga lagu dia yang Two Way Monologue, After All dan Let My Love Open The Door. Untungnya Two Way Monologue dan After All dinyanyiin sama dia! Kata sepupu-nya temen gue, waktu hari Jumat dia enggak nyanyiin Two Way Monologue. How Lucky! Sisa-nya gue banyak denger lagu yang baru gue denger. He was great. Cuman sendirian bareng gitarnya tapi enggak bikin boring. Yah tapi ini bukan Jazz sebenarnya. Tapi enggak apa-apa, pada dasarnya gue emang nge-fans abis sama dia fufufu :D
Soulvibe
Enggak lama-lama di B1 Nokia Hall, langsung pindah ke A3 BNI Hall. Bukan lain karena si Soulvibe ini. Enggak, gue enggak nge fans sama Soulvibe karena cuman tau beberapa lagu dia doang. Karena pergi-nya bareng abege jadinya harus nurutin mau-nya si abege itu a.k.a adek gue. Dan dia sukses histeris karena Soulvibe manggung bareng si berondong ganteng bernama Dennis Junio. Crowd-nya rame banget, rame sama abege-abege juga. Puas dengerin beberapa lagu, langsung gue tarik dia ke Hall sebelah.
Rasmus Faber & RaFa Orchestra
Di A1 BNI Hall seharusnya pada jam 18.15 itu yang main Bauchklang. Tapi kayaknya ada perubahan jadwal, jadinya group ini yang tampil. Karena enggak tahu siapa itu Bauchklang ataupun Rasmus Faber bla bla ini… jadinya gue tetap berpikir kalau mereka adalah Bauchklang (malamnya pas sampai rumah, cek twitter dan ternyata Bauchklang tampilnya jam 23.00… *merasa tertipu).
Dan sama sekali enggak rugi nonton mereka. Ini penampilan yang sukses bikin semua penonton goyang mengikuti irama musik mereka. Atraktif dan sensual, dua kata yang tepat menggambarkan mereka. Walaupun mereka nyanyi pakai bahasa spanyol (dan beberapa bahasa inggris), dan gue baru pertama kali denger musik mereka, tapi gue sangat menikmati performance yang satu ini.
Tadinya, di list yang gue bikin ada Chuck Loeb dan Rhoda Scott. Namun karena perut lapar dan masih banyak yang harus ditonton, jadilah gue dan si adek pergi mencari makan dulu baru kemudian menonton…
Elfa Secioria and His Legacy Lives
Padahal mereka manggung di D2 Axis Hall yang notabene gede cyin seharusnya. Tapi sumpah ini lautan manusia semua. Mungkin karena nama besar Elfa dan abang baru aja meninggal. Gue juga pengen nonton karena gue sempet setahun les di Elfa. Cuman sempet denger beberapa lagu setelah nyelap-nyelip di antara orang-orang. Tapi karena ngerasa enggak nyaman dan ngejar penampilan selanjutnya, maka gue dan si adek memutuskan keluar.
Accoustic Alchemy
Kembali ke A3 BNI Hall. Kalau tadinya pas Soulvibe mayoritas penonton adalah abege-abege sekarang mayoritas penonton adalah om-om dan tante-tante atau mereka yang lebih tua beberapa tahun dan seumuran dengan gue. Kalaupun ada abege atau anak-anak, itu karena orang tuanya pada nonton accoustic alchemy. Ini salah satu penampilan yang paling pengen gue tonton. Lagu-lagunya emang baru pertama kali gue denger. Cuman ngeliat si bapak-bapak itu memainkan musiknya dengan sepenuh hati itu alasan utama gue pengen nonton. Salah satu alasan kenapa gue bela-belain pergi ke Java Jazz adalah menikmati penampilan yang seperti ini. Beruntung mereka memainkan satu lagu yang gue kenal karena selalu diputer di playlist gue, judulnya sih Playing for Time, tapi gatau itu judul bener atau bukan.
Ruben Hein
Selesai nonton Accoustic Alchemy, tadinya mau sempet-sempetin nonton George Duke All Stars cuman karena bentrok dan udah mau selesai juga akhirnya kita beralih ke Ruben Hein di C1 First Media Hall.
Ini salah satu Hall yang paling menyenangkan karena penontonnya disediakan kursi untuk duduk. Lumayan buat kaki yang pegel-pegel kelamaan berdiri. Dan I love Ruben Hein so much! Alasan kenapa gue memasukan dia ke dalam list adalah muka dia ganteng. Konyol sih. Cuman ternyata mereka enggak modal muka ganteng doang. His music reminds me with John Mayer. Dan ini adalah salah satu artis yang paling komunikatif. Bukan cuman nyapa-nyapa nanya basa-basi. Tapi juga bikin jokes-jokes dan sebelum mainin satu lagi si Ruben selalu ngejelasin lagu apa yang akan dia mainin dan background lagu tersebut.
Yang menarik adalah selain rambut gitarisnya yang kece abis tetapi ternyata dalam waktu singkat Ruben Hein udah bikin banyak orang nge-fans sama dia. Terbukti dari segerombolan abege yang dengan histeris dan berteriak ‘I love yooooooooou’ dan si Ruben kaget ‘Why people in Holland never say that to me??’.
Disini juga akhirnya gue bisa nonton barengan sama Diba dan Dipi, walaupun cuman sebentar karena Diba balik duluan dan Dipi ketemu bapaknya.
And I found his web and his words about the gigs in Jakarta here
Seharusnya, setelah Ruben Hein gue dan adek gue nonton New York Voices. Salah satu yang pengen banget gue tonton. Karena mereka tampil di lantai enam, jadilah kita naik lift dulu dan jeng jeng! Rame aja gitu lho sampai enggak bisa keluar lift. Setelah turun ke lantai lima dan naik eskalator ke lantai enam, gue dan si adek mengurungkan niat nonton New York Voices karena MAU MASUK AJA ENGGAK BISA. Sebenernya lebih rame waktu yang penampilan Elfa, tetapi mungkin kapasitas ruangan berpengaruh juga. Sedikit menyesal dan kecewa tapi yaudahlah mau dikata apa dan akhirnya nonton…
Zap Mama
Ini sebenernya enggak ada di list gue karena jadwalnya bentrok samaNew York Voices. Tapi emang jalan takdir akhirnya gue nonton Zap Mama. Jadi A2 dan A3 digabungin, niatnya kita masuk ke A2 karena mau nungguin performance-nya Maliq & D’Essentials, eh ternyata sebelum mereka Zap Mama dulu yang tampil.
And they’re great! Karena kaki udah pegel-pegel, akhirnya gue sama adek gue duduk selonjoran. Karena banyak penonton yang lain juga sambil tidur-tiduran dan duduk-duduk juga. Kita juga nontonnya melalui layar besar yang sengaja dipasang karena di depan panggung lautan manusia semua. Salah satu penampilan yang menarik karena si tante vocalis utamanya itu punya karakter yang kuat. Emang kelebihan penyanyi berkulit hitam adalah suara-nya yang khas, eksotis dan favorit gue, jadinya bisa dibilang itu salah satu daya tarik utama.
Maliq & D’Essentials
They grew bigger. I mean, diliat dari jumlah penonton yang buanyak banget cuman buat nonton
Maliq & D’Essentials. Yang gue suka dari setiap mereka tampil adalah konsep panggungnya dan alur lagu-nya pasti punya cerita. Dan yang pasti sih semua orang siap ber sing a long nyanyiin lagu-nya Maliq. Mulai dari Coba Katakan, Dia, Menari, Mata Hati Telinga, Heaven.. etc etc. Yah pokoknya kalo nonton Maliq gue cuman inget masa-masa SMA dan jatuh cinta tak berkesudahan itu. Karena mereka guest star Prom SMA gue.
Penutup yang manis buat hari Sabtu yang panjang ini. Walaupun nontonnya sambil duduk selonjoran dan ngeliat layar bukan panggung saking rame-nya manusia :)
Yah lumayan juga dalam enam jam bisa menonton delapan artis dari lima belas yang gue list. Dan Java Jazz tahun ini lebih teratur dan tertata rapi dibandingkan tahun lalu.
See you next year! Semoga mendapat kesempatan lagi untuk menonton perhelatan Jazz ini :D
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

2 komentar:
sepupunya temen lo entah boong atau dy emg gak nonton, hari Jumat Sondre bawain Two Way Monologue, cuma bukan sebagai lagu pertama, posisinya ada di urutan tengah
dan keluhan soal Java Jazz dari tahun ke tahun emg gak berubah, sinyal semua operator jadi brengsek semua..
@asakura sena: ooowwh iya sih aneh juga si sondre kalo ga bawain two way monologue secara itu hits-nya doi banget kan disini hehe.. mungkin dia (sepupu temen gue) udah keburu keluar sebelum sondre nyanyi kali ya...
ahahaha kalo sinyal mah enggak usah ditanya.. tapi untungnya sih gue masih bisa sms-an sama temen2 gue hoho *walaupun masuknya 10-15 menit sekali* hihi
Posting Komentar