In any man who dies there dies with himhis first snow and kiss and fight....
Not people die but worlds die in them.
~Yevgeny Yevtushenko, "People"
Tidak usah membicarakan dunia, ataupun negara lain.
Cukup Jakarta.
Ada jutaan penduduknya yang ada dan bergulat dengan kehidupannya masing-masing. Kepadatan serta kesibukan yang mendera individunya membuat kita terkadang terasing satu sama lain. Di antara lalu lalang orang yang dilewati setiap harinya, kita tidak pernah terbayang cerita apa yang membentuk orang tersebut.
Begitu pula kita bagi orang lain, mereka tidak tahu cerita apa yang kita alami. Yang kita lihat hanyalah ekspresi sama dan kita pun malas untuk mencari tahu lebih jauh. Padahal, dibalik wajah itu ada ribuan cerita yang tersimpan.
Namun, tanpa kita sadari dibalik keterasingan itu terdapat benang-benang merah yang menghubungkan diri kita satu sama lain.
Postingan ini gue dedikasikan khusus untuk seseorang yang sama sekali tidak gue kenal. Yang bahkan namanya baru gue dengar hari ini. Padahal mungkin sudah ratusan kali gue berpapasan dengan dia semasa gue masih sekolah dulu di lingkungan Labschool. Entah sekedar bertemu di kantin, di tengah-tengah jam istirahat, pada saat perayaan 17an, pulang sekolah, lari jumat… tapi nyatanya tetap gue tidak kenal.
Hari ini, dia yang bahkan belum genap 16 tahun, telah meninggal dunia karena kanker. Si Ibu yang memang mengenal orangtuanya pun pergi melayat, kebetulan dia juga senior adek gue waktu SMP. Yang membuat gue tergerak untuk menulis ini adalah karena menemukan blog dia yang berisi cerita-cerita dia ketika sakit. Tetapi yang paling sedih adalah ketika gue melihat tulisan dia tentang sebuah surat untuk temannya yang telah meninggal terlebih dulu karena kanker. Well, it made me think whole day… How death can be mysterious and unexpected. Dia bahkan masih kelas 2 SMA. Dia masih punya banyak impian yang akan dikejarnya, menghadapi sulitnya ujian kelulusan nanti, mengalami suka-duka masa-masa pertemanan SMA, dan banyak lainnya. Yah, memang pada akhirnya jalan nasib seseorang tidak bisa kita tebak.
We are completely strangers to each other.
But, for some unknown and random reason, I do care about her.
Mungkin karena ini berbicara mengenai kematian. Sesuatu yang bahkan sampai saat ini merupakan topik yang gue hindari. Seperti apa rupa kematian? Bahkan dia yang lebih muda dari gue sudah bertemu dan mengecapnya.
Kamu beruntung, thas, kamu akhirnya lepas dari segala penyakit dan penderitaan kamu. Kata ibuku, ketika diberi sakit itu tandanya Allah sayang sama kita karena Ia ingin kita mengingatNya. Dan ketika penderitaanmu diakhiri dengan cara yang seperti ini, kamu akhirnya menjadi bebas, lepas dan tidak terbebani. Walaupun kamu meninggalkan banyak orang yang menyayangi kamu disini. Tapi mereka pun tahu, bahwa ini adalah jawaban yang terbaik untuk kondisi yang kamu alami saat itu.
Untuk dia yang belum pernah kukenal, hanya kuketahui sedikit dari tulisan-tulisannya.
Selamat jalan dan semoga sampai dengan tujuan yang membahagiakan :-)
I knew a man who once said, "death smiles at us all; all a man can do is smile back."
~From the movie Gladiator
~From the movie Gladiator

3 komentar:
brilian tam, i love this post :)
i was about to write about death and i read tis post, sehati kita ya hehe... captivating tam.., always brilliant post.. :) *hugs*
@denny: ;;;;___;;; wong aku nulisnya sambil sedih, huhu, dibilang brilian, tapi makasih hehe ;#)
@gogo: wah go, i want to read it if you write about death. actually, ini topik yg aku hindarin sebenernya dan ngeberaniin diri buat nulis. thankyouu *hugs*
Posting Komentar