2.15.2011

#DAY3 : The Parents

"I love when the sky is gray. When the dawn paints the roofs of the buildings and the sun is still hiding.
The city is our’s then. Right before everyone takes over, right when everyone is still sleeping.
It’s hard to notice that it’s so cold when it’s this pretty."

-unknown


Bapak saya katanya waktu muda dulu adalah preman, walaupun berperawakan kecil, tetapi yang paling jago berantemnya. Sementara Ibu saya adalah perempuan muda yang senang bersosialisasi, teman laki-lakinya juga banyak. Yang bikin saya heran, bagaimana bisa kedua manusia ini akhirnya bertemu kemudian memutuskan untuk menikah.
Apa karena keduanya sama-sama hobi naik gunung?
Atau karena keduanya aktif mengudara di radio?
Apa karena bapak saya dan adik ibu saya sama-sama menempuh pendidikan di kampus yang sama?
Entahlah, semuanya masih terasa misteri. Bagaimana dua orang yang memiliki perbedaan banyak ini akhirnya hidup bersama dan saling mengisi satu sama lain. Tetapi yang nyata saat ini adalah sudah menuju tahun ke 22 mereka hidup bersama, menjadi tim yang kompak dalam urusan rumah tangga dan membesarkan anak.

Bapak, orang Solo asli dengan darah keturunan bangsawan. Eyang Papi adalah seorang tentara dan Eyang Ibu adalah seorang kepala sekolah. Dibesarkan sebagai anak bungsu membuat Bapak menjadi pribadi yang jahil dan bandel untuk menunjukan kemanjaannya. Jiwa pemberontak sudah muncul semenjak Bapak di bangku SMP. Bahkan waktu baru masuk kelas 1, beliau sudah membuat patah gigi seorang guru SMP. Dan semua perkara yang beliau buat tidak pernah selesai di kantor polisi, apalagi kalau bukan karena Eyang Papi yang seorang tentara.
Prinsip nomor satu-nya adalah tidak akan pernah memukul/berbuat kasar terhadap perempuan. Dan itu benar-benar diterapkan di keluarga kami. Prinsip nomor dua-nya adalah ‘Jangan pernah percaya orang baik, karena yang baik belum tentu benar. Tetapi percayalah kepada orang benar, karena yang benar sudah pasti baik.’
Walaupun berperawakan seram dan bersuara menggelegar, beliau adalah pribadi yang hangat dan tidak kaku. Bahkan waktu saya kecil, beliau senang mendongengi dengan cerita karangannya tentang lumba-lumba main petak umpet. Sungguh aneh memang, membayangkan mantan berandalan yang kemudian mengarang cerita seperti itu. :D

Ibu, hidup dibesarkan dalam keluarga yang kompleks. Sebagai anak ketiga dari lima bersaudara. Sedari kecil sudah hidup dipisahkan untuk dititip ke salah satu Om yang belum memiliki anak. Sebagai anak perempuan sulung, beliau sudah terbiasa menghabiskan masa kecilnya dengan mengasuh adik serta para sepupu yang masih kecil. Kemudian sempat menghabiskan masa kecil di Ubruk, Sukabumi, karena Mbah Kakung ditugaskan di sana. Sebuah daerah yang masih alami dan penuh dengan petualangan. Saat SMA pun, memutuskan tinggal berbeda kota dari keluarga. Jiwa bebas dan mandiri-nya tidak bisa dibendung oleh siapapun. Ibu terbiasa sedari kecil menjadi anak berprestasi. Jago membacakan puisi, mudah mendapatkan nilai sempurna, dan senang bergaul. Saya rasa inti dari kehidupan Ibu adalah memiliki banyak teman dan bersosialisasi. Bahkan Ibu saat ini masih bisa menjaga silahturahmi dengan perkumpulan ibu-ibu waktu saya SD. Bayangkan! Saya sekarang sudah kuliah dan tante-tante itu masih sering berkumpul dan bertukar gossip. Bukan hanya itu, masih banyak kelompok pertemanan Ibu yang tidak terhitung.

Di tangan keduanya, saya tumbuh menjadi anak yang tidak bisa berbohong.
Sudah menjadi suatu hal yang lumrah untuk jujur kepada mereka berdua, bahkan ketika membolos kelas pun saya pasti menyampaikannya kepada mereka. Ketika pertama kali bandel dan mencoba rokok, saya juga mengatakannya kepada Ibu.
Mereka berdua juga kenal baik dengan banyak teman-teman saya. Kemana saya akan pergi hari ini. Bersama siapa saya pergi ke tempat yang saya tuju. Siapa saja yang akan mengantarkan saya pulang. Dan tidak jarang rumah disinggahi oleh teman-teman untuk sekedar mengobrol, makan siang, masak-masakan, menonton dvd dan tempat menginap.
Dan saya melakukannya atas kesadaran sendiri, bukan karena paksaan. Karena saya tahu, dalam hitungan tahun saya juga akan menjadi orang tua seperti mereka. Baik atau buruknya anak saya kelak, saya ingin menjadi orang yang pertama tahu. Dan saya ingin Bapak dan Ibu juga mengetahui perkembangan hidup saya, baik ataupun buruknya.

Kepada keduanya, alasan kenapa saya mau menempuh jarak Jakarta-Depok-Jakarta setiap hari tanpa mengenal rasa lelah. Perjalanan pulang menjadi kegiatan yang paling ditunggu di akhir hari. Karena disana menunggu tawa, canda, pertengkaran, teriakan dan renungan bersama.
This is home where I belong :)


"Fathers, be good to your daughters
Daughters will love like you do
Girls become lovers who turn into mothers
So mothers, be good to your daughters too."
Daughters by John Mayer

4 komentar:

mr.snugglemars mengatakan...

bukan orang tua terbaik di dunia,
tapi tetap jadi yang tersayang :)

i love your post :D

tammi prasetyo mengatakan...

@denny: they are the best that i've got. it made me thinking.... sebenarnya siapa yang memilih siapa yang kelak yang menjadi orangtua dan siapa kelak yang menjadi anak... itu tanda tanya besar haha.. :D

kalau katanya agatha christie mah:
"There is nothing more thrilling in this world, I think, than having a child that is yours, and yet is mysteriously a stranger"

Gogo Caroselle mengatakan...

tami aku terharu baca blog ini dan jadi pengen bgt kenalan sm ortu mu... they sound amazing!

tammi prasetyo mengatakan...

@gogo: hehehe :*) sebenernya mereka sama juga kok kaya bapak-bapak dan ibu-ibu yang lainnya hoho :D

 
;