"Friendship is everything.Friendship is more than talent.
It is more than the government.
It is almost the equal of family."
Don Corleone (The Godfather)
CAUTION!
Ini akan menjadi postingan yang sangat panjang. Sulit menahan diri kalau bercerita mengenai teman-teman saya :)
Ini akan menjadi postingan yang sangat panjang. Sulit menahan diri kalau bercerita mengenai teman-teman saya :)
Teman adalah mereka yang merupakan saudara satu jiwa tanpa ikatan darah. Salahkan Mario Puzo dan cerita-cerita Mafioso lainnya karena saya menerapkan hal itu dalam konsep pertemanan saya.
Mereka adalah kepingan puzzle penting dalam kehidupan saya. Mereka adalah obat paling ampuh jika saya sedang sakit. Mereka adalah pengalih perhatian utama saya dari dunia ketika saya sedang merasa terpuruk dan butuh pertolongan.
Kami tidak pernah memaksakan diri untuk menjadi teman, semua mengalir begitu saja, entah karena merasa cocok satu sama lain hingga akhirnya kami sering bersama-sama dan tahu-tahu sudah tahunan terlewati.
Ada empat kelompok pertemanan yang saya miliki. Dua pertama saya temukan waktu masih SMP. Yang ketiga terbentuk waktu SMA. Dan yang terakhir adalah mereka yang saya kenal saat ini, saat kuliah. Keempatnya saling bersinergis satu sama lain. Bahkan yang ketiga pertama saling mengenal satu sama lain. Lucunya tiga dari empat itu akan ada satu nama yang terus menerus ada, dan dia adalah sahabat saya yang paling lekat bahkan tidak terpisahkan. Aida namanya, semenjak bersekolah di SMP yang sama, masuk ke SMA yang sama, dan herannya terjebak di kampus yang sama… lebih daripada itu, kami di dalam jurusan yang sama. Entah permainan nasib macam apa yang terus mendekatkan kami berdua.
Kelompok pertama, menamakan diri Blacklist, disingkat BL. Terimakasih kepada GEMA, majalah sekolah SMP kami yang membuat kami berkumpul. Dengan pribadi yang berbeda-beda, tetapi memiliki kecocokan dalam masalah kejahilan, kecuekan, kebebasan, kemandirian dan suka makan. Perempuan-perempuan hebat yang pernah saya kenal. Anti, Dimple, Seichi, Sapi, Aida dan saya. Kenapa namanya Blacklist? Saya juga lupa. Sepertinya itu sesuatu yang berhubungan dengan tingkat keisengan anggota kami. Dulu waktu kelas 2 SMP, Seichi pernah membeli bom kentut yang akhirnya diledakannya saat kelas matematika karena kami semua tidak suka guru-nya. Sungguh bandel. Tapi lucu sebenarnya. Khas anak SMP.
Kami paling senang berkumpul dan menginap di rumah Anti. Karena saya bisa membaca komik-komiknya yang banyak itu. Kemudian makan masakan mbak-nya yang enak. Saya juga kangen lasagna sayur buatan mama-nya Dimple yang jawara. Mereka juga senang sekali makan masakan ibu saya setiap jumat siang.
Saat ini, saya dan Aida masih di Depok menimba ilmu. Sapi sedang mengejar titel hukum di Jogja. Anti berkutat di Bandung. Seichi baru saja pindah ke London. Dimple masih di Belanda untuk mengejar impiannya. Saya ingat waktu lulus SMA dan mengantar Dimple ke bandara, saya orang yang paling ingin menangis. Tetapi dasar yang lain sudah nge-ceng-in duluan. Akhirnya tangis itu tertahan dan menjadi tawa, walaupun tetap berair mata.
Terakhir bertemu secara lengkap adalah liburan semester tahun 2010, ketika akhirnya Dimple pulang kembali ke Indonesia. Tentu saja, kami menginap di rumah Anti untuk bercerita semalam suntuk. Entah kapan kami bisa berkumpul secara lengkap kembali. Saya dan Aida tentunya masih sering bersama. Saya dan Anti juga sering bertemu kalau dia pulang ke Jakarta.
Dari mereka saya belajar untuk bisa menjadi apa adanya dan percaya bahwa pertemanan yang didasari ketulusan tentunya akan terus bertahan hingga kita tua nanti.
Kelompok pertemanan kedua, berawal dari seorang murid pindahan saat kelas 2 SMP yang dengan bodohnya salah membawa tas. Yang dia bawa adalah tas laptop ayahnya. Laki-laki itu bernama Arrad, dan semenjak itu dia duduk di depan saya. Hanya ada dua perempuan dalam kelompok pertemanan ini. Saya dan Fikha, sahabat saya dari kelas 1 SMP karena kami teman sebangku. Kami disatukan oleh komik dan Ragnarok. Kami menyebut diri kami Yorkshire. Ya, saya tahu, itu adalah nama daerah di Inggris. Karena kedengarannya unik dan seksi, nama itu kami pakai. Saat itu kami membuat project komik bersama (yang bisa ditebak, it’s a never ending story, lebih tepatnya tidak ada yang melanjutkan lagi) dan senang bermain RO.
Arrad, Anggit, Gilang, Bayu, Osa, Ridwan, Fikha dan saya. Kemudian setelah sama-sama pergi dari SMP, semuanya berubah. Hanya saya, Fikha, Arrad, Gilang, Ridwan dan Bayu yang masih mempertahankan pertemanan ini. Osa hilang rimba tidak ketahuan apa kabarnya hingga detik ini. Anggit… walaupun dia pergi, tanpa dia sadari kami semua masih memantau punggungnya yang menjauh.
Saya, Fikha dan Gilang masih mengais ilmu di kampus yang sama di Depok. Arrad memang satu kampus, cuman dia berada di Salemba dan mengejar ilmu… menjadi dokter gigi (unexpected but hell yeah he always full of surprises). Ridwan di Bogor belajar menjadi dokter hewan. Sementara Bayu berjuang dalam udara dingin di Jerman sana. Hanya Arrad yang tetap fokus mengejar cita-citanya menjadi komikus (dia mengambil kuliah tambahan D1 di IKJ). Hanya Bayu dan Arrad yang masih tetap bermain RO saat ini.
Lucunya, setelah bertahun berlalu dan memasuki masa kuliah yang membuat terpencar-pencar saya baru merasakan bahwa mereka adalah teman yang juga berharga dalam hidup saya. Mereka merupakan kepingan puzzle yang cemerlang. Karena bersama mereka lah saya belajar menjadi dewasa. Ketika saya kehilangan arah dan merasa limbung, karena keberadaan mereka saya tahu saya pasti bisa terus melangkah maju seberat apapun tantangannya. Kami saling berpegangan tangan dan menguatkan satu sama lain. Kami manusia ambisius dengan impian kami masing-masing. Kami manusia yang akan menjadi dewasa tetapi tidak akan pernah melupakan sepetak kecil masa kanak-kanak kami. Kami sama-sama mengecap rasa pahit kehidupan. Dan saya merasa sangat kaya karena memiliki teman-teman seperti mereka.
Kelompok pertemanan ketiga, adalah masa-masa SMA. Ketika kami sama-sama menjadi remaja tanggung dan berusaha mengenal apa kata dewasa. Dipertemukan saat kelas 2 SMA dan sama-sama memasuki kelas IPS (kecuali Ninda, yang ada di IPA). Tika, Dwita, Ninda, Disa, Titha, Aryo, Aida dan saya. Aryo dan Disa adalah teman yang seharusnya saling mengenal semenjak TK. Tika, Ninda, Titha dan Aida sama-sama satu kelas saat kelas 1 SMA. Saya dan Dwita, walaupun berbeda kelas, merasa memiliki kecocokan karena merasa terasing di kelas masing-masing dan entah sejak kapan sering membicarakan kerumitan hidup. Dan seperti yang sudah diketahui, saya dan Aida memang sudah daridulu akrab.
Lucunya, kecocokan kami lebih membentuk kelompok kecil di dalam kelompok besar. Saya dan Dwita senang bercerita mengenai hidup dan filsafat. Dwita dan Aryo sama-sama bisa meramal. Saya dan Aryo senang dengan kucing dan dulu sama-sama memelihara ular. Dwita, Ninda dan Aryo sama-sama senang menggambar. Titha dan Tika adalah teman satu rasa dan berbagi kesedihan. Saya dan Disa sama-sama les vocal di guru yang sama. Saya dan Aida, tentu saja bersahabat sejak SMP. Aida dan Tika teman sebangku yang sama-sama suka bersenang-senang. Tika dan Aryo sering curhat satu sama lain. Saya, Aida dan Disa adalah satu tim kompak untuk dikirim dalam perlombaan-perlombaan ilmiah untuk mewakili sekolah. Dan banyak lagi garis hubungan antara kita masing-masing. Itulah yang akhirnya merekatkan dan membuat kita senang bersama-sama.
Hingga akhirnya kami menempuh ilmu masing-masing. Saya, Disa, Aida dan Dwita berada di Depok. Tika di Bandung. Titha masih tetap di Jakarta. Aryo di Australia. Ninda di Malaysia. Masih saja tetap memiliki garis yang saling bersinggungan. Yang ternyata mantannya Dwita adalah keponakan dari sahabat ibu saya. Kemudian ibu saya dan ibu-nya Titha satu arisan. But yeah, from this complicated we became bestfriends. :)
Mengobrol bersama mereka, seakan tidak ada hari kemarin yang terputus, seakan kami bertemu terus setiap hari. Dan bersama mereka, saya belajar untuk menghargai hidup dengan bersenang-senang. Melupakan segala masalah sejenak. Dan percaya, pertemanan adalah obat penawar paling baik di atas segala penyakit serta kegilaan yang terjadi di muka bumi ini.
Kelompok pertemanan keempat adalah saat ini, di dunia saya yang baru, dunia kampus dimana kami bertemu sudah memasuki taraf kedewasaan masing-masing. Ini adalah jenis pertemanan yang penuh dengan ujian. Kenapa penuh dengan ujian? Karena disini saya belajar untuk menjadi seseorang yang siap dengan segala macam pujian jika berlaku baik, dan siap ditampar dengan keras ketika berlaku salah. Kami belajar dewasa untuk mengakui kebaikan dan kesalahan masing-masing pihak. Waktu dibutuhkan untuk saling mengerti sifat masing-masing dari kami. Tidak jarang kami bertengkar hebat satu sama lain. Tetapi bukan berarti kami akan saling membenci, justru karena pertengkaran itu saya bisa melihat dengan baik siapa sosok yang berdiri di hadapan saya. Setelah itu kami saling memaafkan dan melanjutkan pertemanan. Pertemanan kami semakin kaya akan pengalaman berseteru, yang kemudian pada suatu saat kami saling bercerita dan menertawakan perseteruan yang pernah kami alami.
Pertemanan keempat ini saya namakan sebagai keluarga besar ilmu politik, khususnya angkatan 2008. Jika ada nama yang bisa saya sebut, maka Aida menjadi prioritas pertama. Karena bersama dia, semenjak kelas 1 SMP terjebak di kelas LIA yang sama hingga memasuki jurusan yang sama. Kemudian ada Boim, yang menjadi teman bimbel saat kelas 3 SMA, dan nasib membawa kami berada di jurusan yang sama pula. Ada Diba, yang karena dia saya memiliki motivasi untuk mengerjakan tugas dan makalah selama ini. Kemudian Juleha yang akhir-akhir ini sering chatting dan bercerita bersama. Ada Galih, si keker yang akhirnya jadi ketua BEM. Dan banyak nama lain yang kalau disebut satu-satu maka akan sangatlah panjang.
Kalau semuanya berjalan tepat pada waktunya, tinggal tiga semester lagi kami bisa menikmati kebersamaan ini. Maka bagi saya, waktu yang dilalui sangatlah berharga dan tidak boleh disia-siakan. Mereka kumpulan kepingan puzzle pelengkap. Dan saya baru merasa lengkap kalau sudah bertemu dengan mereka.
Yah, akhirnya cerita panjang ini harus saya tutup. Hidup dan nasib seperti apa yang akan kami hadapi selanjutnya, saya masih belum tahu. Yang jelas, karena mereka lah yang membentuk dan menempa diri saya hingga menjadi Tami yang dikenal banyak orang. Tidak ada yang bisa saya syukuri lebih dari ini karena akhirnya menemukan orang-orang yang benar-benar menghargai dan melihat diri saya apa adanya. Tentu saja mengajarkan untuk berani menjadi diri sendiri. Mengingat, dulu sewaktu SD saya sering di bullying… oh did I tell you, guys? No, they didn’t know. :D It’s the first time actually I mention about my past here, to everyone.
Walaupun masih sulit untuk menitikkan air mata.
Walaupun masih sulit untuk mengungkapkan perasaan yang rumit.
Tetapi saya akhirnya bisa tertawa lepas bersama mereka semua.
Thankyou. :)

7 komentar:
panjangnya....
hihi
tammi, seneng ya punya banyak temen... :)
daaaan,
aku juga suka ular!
kapan2 fotoin ular kamu yaa... ;)
Ketika saya kehilangan arah dan merasa limbung, karena keberadaan mereka saya tahu saya pasti bisa terus melangkah maju seberat apapun tantangannya. Kami saling berpegangan tangan dan menguatkan satu sama lain. Kami manusia ambisius dengan impian kami masing-masing. Kami manusia yang akan menjadi dewasa tetapi tidak akan pernah melupakan sepetak kecil masa kanak-kanak kami. Kami sama-sama mengecap rasa pahit kehidupan. Dan saya merasa sangat kaya karena memiliki teman-teman seperti mereka.
esensi dari pertemanan yang gak semua orang punya tam :)
@gogo: alhamdulilah hehe :D wah sekarang aku udah ga melihara ular lagi, go. ehhehe... dulu melihara karena punya temen yg satu hobi ;p... wah kamu melihara ular apa? lucuuuu
@denny: i think, people always had that kind of relationship.. cuman kapan menemukannya itu yg masalah waktu hoho :D
laughing at the horrible past, salah satu momen paling menyenangkan :)
@asakura: exactly! its our best time together to laugh our madness.. haha
Dibully? Hah? Tam? wow, we need to talk again :D hahaha, and this time with Gilang. Do you know he already sell his camera?
Gw membayangkan di masa depan nanti kita bakalan gimana, ya, tam. hehe. tag: arrad, gilang, ridwan, bayu, anggit, osa.
@fiekha: what? seriously????? omgg, yes we need to talk again
Posting Komentar