1.09.2011

sun to the day

“Life is not measured by the number of breaths we take, but by the moments that take our breath away”
-unknown


“Hidup selalu diisi kebetulan-kebetulan bermakna yang membawa seseorang menuju tujuan yang dikehendakinya.
Seperti sudah digariskan.”

Sepenggal kalimat yang membuat gue tersentak ketika membaca Kompas Minggu di bagian sosialita. Kali ini perempuan yang dibahas bernama Ines Somellera, seorang praktisi Yoga kelahiran Meksiko yang akhirnya menetap di Indonesia. Gue bukan dan bahkan belum pernah mencoba praktik Yoga. Alasan kenapa kalimat itu dapat membuat tersentak tak lebih karena berhasil membawa gue ke banyak kejadian selama beberapa tahun ke belakang.

Lucu. Bahwa kita semua repot dan sibuk membuat alur cerita kehidupan kita. Ingin menjadi ini, ingin menjadi itu, dan berbagai macam keinginan lainnya. Padahal hidup sudah ada yang mengatur, mengalir seperti air dan tinggal bagaimana kita dapat ‘mendengar’ dan ‘menemukan’ apa yang sudah digariskan. Gue bukannya meremehkan orang dengan impian-impian mereka. Justru, gue kagum dengan mereka yang memiliki mimpi dan sudah tahu tujuannya apa. Gue selama ini masih terjebak dalam otak minim gue dan terbatas dalam menerjemahkan apa yang selama ini gue inginkan. Maka, hidup pun mengalir, bertemu banyak kepingan-kepingan puzzle dan mencoba menyusunnya. Ketika akhirnya berada di titik akhir perjalanan, melihat proses di belakangnya, dan bersyukur semuanya terlewati. Bertemu kembali dengan titik perjalanan baru dan mengandaikan ada apa di finish line-nya nanti.

Hidup adalah perjalanan spiritual. Kalimat ini semakin lucu karena gue yang menuliskannya. Gue bukanlah seseorang penganut agama yang baik. Gue adalah mereka yang tersesat dan mencari setitik cahaya di antara kegelapan. Cahaya yang sebenarnya tidak usah dicari, karena ada di dalam masing-masing pribadi manusia. Dan, ya, gue merasa telah menemukan setitik harapan.

Ps: tulisan ini muncul karena efek kebanyakan libur, tidur, tidak ada kegiatan, di hari Minggu yang kosong dan sedang berpikir untuk menanam cabai dan tomat (mengingat harga cabai yang tidak masuk di akal akhir-akhir ini #duh) dimana seharusnya gue menyelesaikan LPJ itu *lirik kanan-kiri, berharap enggak ada yang baca* hehe.

2 komentar:

Gogo Caroselle mengatakan...

Tammi,
tulisan kamu ini masuk banget di aku...
Totally get what you mean..., somehow, by you translating it with writting bikin aku ngerasa bisa relate dgn perasaan kaya gitu...

Ga ada kebetulan yang kebetulan ya tam... Aku setuju sama kamu...
:)

tammi prasetyo mengatakan...

@gogo: iya, pada akhirnya segala sesuatu yang terlihat abstrak pasti memiliki arti dan makna. bagaimana kita mampu menerjemahkannya atau tidak.
haha.. thanks go :)

 
;