7.13.2010

what so called semester 4

"Beginnings are usually scary and endings are usually sad,
but it's everything in between that makes it all worth living."

- Sandra Bullock in "Hope Floats"



Walaupuan IP semester 4 kemarin tidak se-fantastis seperti apa yang gue dapat di semester 3. Tetapi gue bersyukur berhasil melewati semester 4 dengan baik dan sukses. Sukses bukan dalam artian nilai-nilai yang dihasilkan, tetapi dari ilmu apa yang telah meresap dan terkenang hingga sekarang. Mungkin banyak orang yang masih bertanya-tanya mengenai perkuliahan politik. Surely, gue kuliah mengambil politik karena ilmu-nya lah yang gue cari. Pengetahuan serta pemahaman mengenai politik itu sendiri.


Jadi ini lah mata kuliah yang gue ambil di semester 4 kemarin:

1. Metode Penelitian Sosial I

Seharusnya ini mata kuliah ‘hororsemester 5, tetapi akhirnya dimajukan ke semester 4. Inti dari mata kuliah ini adalah untuk membuat sebuah research design atau Bab.I skripsi. Dengan memakai 2 metode; qualitatif dan quantitatif. Satu RD (research design) dibuat oleh satu kelompok yang berisi 5 orang.
Intinya mata kuliah ini sukses membuat seorang gue s.e.t.i.a.p h.a.r.i datang ke kampus. Setiap hari a.k.a dari Senin ketemu Senin lagi. Dari pagi ketemu malam dan pagi kembali.
See?
Gimana enggak akhirnya seluruh anak politik angkatan gue memiliki bonding time bersama selama 24 x 7 selama satu semester.

2. Perbandingan Politik
Nah, yang ini seharusnya menjadi mata kuliah ‘horor’ semester 4. Tetapi, karena adanya si MPS, banpol (singkatan kece untuk Perbandingan Politik) jadi tidak terasa terlalu berat dan bikin shock.
Dasar elo belajar politik ke depannya ini sebenarnya dari banpol ini. Teori banget sih, tapi ke depannya ilmu ini yang bakal terus kepake buat bikin paper atau essay untuk membahas politik... terutama yang kecenderungannya tentang negara.
Catatan khususnya adalah, untuk pertama kali akhirnya gue menjadi seorang ketua kelas di sebuah mata kuliah. Dan menjadi ketua kelas enggak sama seperti waktu jaman SD-SMP-SMA dulu... which is beda jauh keadaannya haha.

3. Desentralisasi dan Otonomi Daerah
Seharusnya ini adalah mata kuliah bagi mereka yang terkonsentrasi terhadap politik Indonesia. Gue, si anak perbandingan politik luar negeri, pun nekat mengambil mata kuliah ini. Dan, gue enggak nyesel sama sekali.
Lucunya ini jadi mata kuliah favorit gue. Seru aja ngebahas tentang pembagian kue kekuasaan antara pusat dan daerah. Terutama intrik dan konflik yang terjadi di tiap-tiap daerah. Bagaimana pola perubahan yang terjadi dan mengapa terjadi. Di kelas ini juga sering terjadi diskusi yang seru antara teman-teman, jadi gue suka merasa sayang kalau enggak masuk (tantangannya adalah ini merupakan kelas pagi, padahal gue paling susah bangun pagi).

4. Sistem Perwakilan Politik
Enough said. Entah karena kesalahan apa atau bagaimana, gue merasa enggak dapat ilmu apa-apa di mata kuliah ini. Yang paling bikin kesel adalah nilai gue paling jelek di antara satu kelas. Jadi, daripada terus berkeluh kesah (enggak dapet ilmu, nilai jelek padahal gue tau banget apa yang diajarin!) gue memutuskan untuk mengambil ulang matkul ini tahun depan.
Tentunya dengan pengajar yang berbeda, maka kita mengharapkan perbaikan dalam pengajaran bukan?

5. Ekonomi Politik
Salah satu mata kuliah seksi lainnya adalah ini. Padahal dulu gue paling enggak suka dengan pelajaran ekonomi. Yang paling gue suka adalah mungkin yang kita bahas disini lebih kepada perjalanan kondisi perekonomian dilihat dari perspektif politik. Bahwa setiap masa memiliki pola-nya sendiri, apa yang terjadi sekarang tidak terlepas dari apa yang telah dilakukan pada masa dahulu.
Our favorite part adalah ketika membahas mengenai middle-class atau kaum kelas menengah. DULU, saat masih SMA kita selalu diajari kalau sebagai pelajar/mahasiswa adalah merupakan middle-class yang dianggap dapat membawa perubahan. Tetapi yang kita lihat sekarang yang disebut sebagai middle-class adalah mereka yang hedon, para kelas pekerja muda yang hidup berfoya-foya. Paham mengenai kaum muda pembawa pergerakan/perubahan lama-lama terkikis oleh fakta yang melanda seluruh dunia.
Jangan tanya kenapa, karena jawabannya satu essay sendiri.

6. Politik Identitas dan Kewarganegaraan
Semua orang (senior) mengatakan kalau mata kuliah ini adalah jebakan batman. Karena dosen pengajar Politik Identitas adalah tipikal dosen yang selalu memberi nilai A, tetapi dosen pengajar Kewarganegaraan sangat amatlah suliiiiit sekali direbut hati-nya. Berbekal pengetahuan minim mengenai siapa dosen pengajar kewarganegaraan, gue pun nekat mengambil mata kuliah ini. Dan.... gue enggak menyesal.
Nyatanya mempelajari Kewarganegaraan sangat mengasyikan dibandingkan politik identitas. Bayangkan, dosen Kewarganegaraan hanya pulang setahun sekali ke Indonesia dari Norwegia hanya untuk mengajar mata kuliah ini!
Memang sulit tetapi kelas KWN ini berhasil menjadi sebuah kelas diskusi yang sangat mengasyikan dan ditunggu-tunggu oleh gue. Apalagi, ketika mulai membahas konsep kewarganegaraan dan perempuan. Yang akhirnya gue ambil menjadi tema besar untuk take-home test gue. And, i’m proudly say that i’ve got A for this class.
Dapet ilmu yang bagus dan dapat nilai yang oke, siapa yang enggak senang :D

7. Politik di Malaysia, Singapura dan Brunei.
No surprise, yang ngajar politik di Malaysia adalah eyangnya dia.
Belajar mengenai perpolitikan di negara lain (terutama ketiga negara di atas, karena dekat dengan Indonesia) membuka mata gue dalam banyak hal. Mulai dari Malaysia yang ternyata sangat rasis antara China, India dan Melayu (enggak heran kalau di antara sesama warga Malaysia sendiri aja mereka rasis, gimana sikap mereka sama orang Indonesia? haha), Singapura yang juga terdiri dari 3 ras yang sama (China, India dan Melayu) tetapi berhasil menekan perasaan rasis di antara warga Singapura dan Brunei dengan kesultanannya yang sangat mendominasi.
Gue suka heran kalau ada orang yang berkomentar mengenai ‘kenapa Indonesia tidak semaju Malaysia, Singapura dan Brunei? Padahal merdeka lebih dulu!?
Buka mata lo lebar-lebar! Lihat fakta apa yang terjadi di ketiga negara tersebut! Bandingkan apa yang terjadi di Indonesia!
Merdeka lebih dulu tidak menjadi jaminan akan kesejahteraan serta kedewasaan suatu pemerintahan dalam mengambil kebijakan. (dan jawaban pertanyaan di atas kalau dijabarkan satu persatu, bisa menjadi essay yang sangat panjang).


**
So, here I am, in the middle of my 3-months-holiday. Jobless and happy to be not-so-busy person. Dimana tahun lalu liburan gue dicurahkan habis untuk tetap berada di kampus. Liburan sekarang gue lebih memilih kegiatan sehingga bisa bersantai-santai sejenak.

Dari dulu, gue selalu heran kenapa menjadi mahasiswa liburannya kok panjang banget ya? Dari apa yang gue alami semester kemarin, liburan tiga bulan ini adalah hadiah terindah yang gue dapat karena telah berhasil melalui satu semester lagi sebelum bertemu semester lainnya yang harus dihadapi. :)

2 komentar:

Monika Lintang Retnani mengatakan...

hmm, MPS, perpol, jd inget kuliah baca ini. hehehe..
btw ambil jurusan apa? agak familiar sama mata kuliahnya.

tammi prasetyo mengatakan...

@Monik: gue ngambil politik, mon. hehehe

 
;