6.30.2010

2 things on 24th June

Mungkin sedikit konyol, cuman pada saat tanggal 24 Juni kemarin satu-satunya yang gue pikirkan adalah bagaimana caranya menghabiskan waktu selagi masih berumur belasan tahun. You know, doing something that’s make it last or a happy closing chapter for another story.

Dan yang gue lakukan adalah menghabiskan satu hari bersama adik gue (mengingat gue lumayan jarang di rumah). Adik gue, Dita, sedang di masa-masa yang mungkin ingin cepat-cepat dia lalui. Saat ini dia baru saja lulus SMP dan belum ada kejelasan untuk masuk SMA mana karena pendaftaran online SMA negeri juga baru 1 Juli nanti. Dia yang berprinsip ogah menjadi orang dewasa agak menyayangkan kenapa harus cepat sekali waktu SMP berlalu dan bingung akan bagaimana bersikap saat SMA nanti. Apalagi dia sendiri belum ada bayangan akan masuk SMA mana.

Jadi gue dan dia pun pergi menonton Toys Story 3. I like to say a thousand times that I always love Pixar’s movie. Its like everlasting or what. Damn, they are really cool!!

Now Woody, he's been my pal for as long as I can remember.
He's brave, like a cowboy should be. And kind, and smart.
But the thing that makes Woody special, is he'll never give up on you... ever.
He'll be there for you, no matter what.
[Andy - Toys Story 3]



Dan seperti yang sebelumnya, gue enggak nyesel nonton Toys Story 3 atau film-film Pixar lainnya. Film belum mulai gue udah mulai nangis... gue emang paling enggak tahan sama tipe-tipe film yang kayak gini. I think, Toys Story 3 adalah film yang tepat untuk jadi penutup Toys Story. I just cant imagine if they continue into Toys Story 4 or what. Move on is the whole idea of this movie. And yes, it was a really nice film to become a part of my ‘how-to-close-my-last-day-being-teenager’.

Yang kedua gue lakukan adalah membeli Marmut Merah Jambu-nya Raditya Dika. I never buy any of his books before. But I always read it (minjem tentunya haha) and he has a really good jokes. Gue pikir dia adalah tipikal orang yang sukanya becanda melulu atau gimana. Tetapi perkiraan gue ternyata salah. Setelah beberapa kali melihat dia di FISIP (dia kuliah ngambil ekstensi politik). Dan bertemu secara langsung karena satu dan lain hal, dan sehabis itu mengobrol...
first impression
gue adalah: ‘darimana sih keluar jokes-jokes itu kalau ternyata orangnya seserius ini!?’ bahkan cenderung cynical (hanya pendapat). But, he's smart person.

Ternyata bener juga kalau ada pendapat yang mengatakan manusia itu bukanlah kotak yang hanya memiliki empat sisi. Manusia itu lebih kompleks lagi dan memiliki sisi-sisi yang tidak pernah kita kira.

Buku MMJ ini masih sama seperti yang dulu-dulu. Berkisah mengenai cerita-cerita si Radit. Cuman mungkin lebih dikhususkan lagi kepada kisah-kisah cinta yang tidak terbalas. Damn, ada beberapa paragraf yang kalau gue baca gue cuman bisa bergumam ‘sialan, gue banget’. Sisanya gue cuman berpikir gimana ya gaya tulisan dia kalau menulis essay atau review atau makalah tentang Politik (haha).
But it was good and quite deep.


"Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya selalu melamun dengan tidak pasti,
memandang waktu yang berjalan dengan sangat cepat
dan menyesali semua perbuatannya yang tidak mereka lakukan dulu"

"Orang yang jatuh cinta diam-diam pada akhirnya menerima.
Orang yang jatuh cinta diam-diam akhirnya paham bahwa kenyataan terkadang berbeda dengan apa yang kita inginkan. Terkadang yang kita inginkan bisa jadi yang tidak kita sesungguhnya kita butuhkan. Dan sebenarnya yang kita butuhkan hanyalah merelakan.
Orang yang jatuh diam-diam hanya bisa, seperti yang mereka selalu lakukan, jatuh cinta sendirian"

"Unrequited Love, atau cinta yang tak berbalas, adalah hal yang paling bisa bikin kita ngasih tanah.
Untuk tahu kalau cinta kita tak berbalas, rasanya seperti diberitahu bahwa kita tidak pantas unuk mendapatkan orang tersebut. Rasanya, seperti diingatkan bahwa kita, memang tidak sempurna,
atau setidaknya tidak cukup sempurna untuk orang tersebut"

Dengan cover buku yang se-imut itu, gue enggak menyangka akan mendapat terjangan kalimat-kalimat ini di dalamnya. Yeah, setidaknya tiga paragraf di atas bisa gue bilang menggambarkan apa saja yang pernah gue alami saat gue berumur belasan tahun. Mulai dari cinta mati sama sahabat sendiri hingga suka banget sama orang yang akhirnya jadi pacar temen gue sendiri.
Hingga sekarang gue masih terkenang akan masa-masa dimana 'kenapa gue enggak bilang aja sama dia ya?'. Dan sialnya, kenangan itu ibarat hantu yang ada di pojok ruangan. Tidak menghilang dan terus menetap, bahkan muncul hanya karena potongan-potongan memori yang bernada sentimentil.


But at least, I've been through all of these.
My teenager chapter was over, and still i have another pages to fill.
So, what gonna be my next story? ;)

Tidak ada komentar:

 
;