4.10.2010

there is one thing called a ball

"Futsal will always be my first love." - Ronaldo


Gue enggak pernah menyangka kalau dalam semacam hal seperti pertandingan futsal bisa menyita waktu dan pikiran sebanyak ini. Bahkan kalau sudah menyangkut harga diri dan semacamnya, segala sesuatu bisa menjadi lumayan menyebalkan. Mungkin karena ini dilihat dari sudut pandang gue karena gue perempuan.

As you know seperti yang pernah gue tulis disini sebelumnya kalau di fakultas gue sedang ada LIGA dimana seluruh departemen yang ada bertanding satu sama lain untuk menentukan siapa menang dan kalah. Sudah dua minggu berlalu dan jurusan gue sudah melewati empat pertandingan. Satu menang dan tiga sisanya kita kalah.
For me, menang dan kalah itu hanyalah hasil akhir tetapi yang paling penting adalah bagaimana perjuangan kalian mendapatkan semua itu.

Pertandingan pertama melawan jurusan H.I. Saat itu kondisi lapangan licin karena sehabis hujan. Belum lagi sudah menuju malam dimana salah seorang teman gue yang memang kulitnya hitam manis menjadi sama sekali tidak kelihatan kecuali kaosnya yang memang berwana putih, hehe. Hasilnya tentu aja bisa dimenangkan oleh jurusan gue (haha). Walaupun beberapa pemain dari jurusan gue sampai jatuh jumpalitan karena memang lapangan yang licin.

Pertandingan kedua, masih tersisa semangat atas kemenangan yang lalu, kita melawan jurusan Kesejahteraan Sosial. Jujur aja gue enggak terlalu kenal banyak anak-anak Kesos, yang gue tahu paling cuman beberapa dan itu perempuan semua. Nah, karena stereotype di otak gue udah kebayang kalau cowok-cowoknya bakalan dikit dan bisa dimenangkan mudah oleh jurusan gue jadi kita semua enggak terlalu menanggapi dengan serius.
Babak pertama kita lalui dengan mudah, jurusan gue unggul dengan skor 4-1.
Mulai lah babak kedua dengan pertarungan yang lebih keras.
Gue sadar, kalau laki-laki main futsal pasti bakal main kasar. Pertandingan yang tadinya dianggap enteng sama teman-teman gue ternyata mulai menegangkan ketika skor kita berhasil disusul menjadi 4-3. Dan detik-detik menuju pertandingan berakhir, salah satu pemain terbaik gue lepas kontrol dan emosi. Enggak disangka-sangka dia mendapatkan kartu merah dan harus keluar dari pertandingan.
Saat itu kondisinya mulai ricuh dan semangat teman-teman gue mulai turun karena harus kehilangan salah satu ujung tombak. Yang baru gue sadar adalah permainan lawan enggak jelek-jelek amat, dan bahkan gue baru tahu track record mereka itu sebenarnya bagus banget. Ditambah ternyata mereka punya pemain baru yang oke banget (jago bola dari SMA gitu, pemain nasional kayaknya).
Tiba-tiba mereka menyamai skor. Kiper gue langsung turun jadi striker dan diganti oleh teman yang lain. Dan satu menit terakhir tiba-tiba skor menjadi 5-4. Sisa waktu 60 detik yang ada tidak tercukupi... dan bisa ditebak kita pun kalah dengan penuh kekecawaan. Semua orang enggak bisa menutupi rasa kecewanya, termasuk gue. Apalagi ditambah salah satu teman gue yang mendapat kartu merah tidak boleh bertanding untuk pertandingan selanjutnya. Dan saat kita semua tahu bahwa pertandingan selanjutnya adalah melawan ADM, sang juara bertahan, mungkin itu salah satu alasan mengapa kita semua down.

Time goes by, dan gue berusaha menyemangati mereka semua. Satu persatu sudah bisa menerima kenyataan dan pertandingan tetap menanti di depan. Walaupun tahu hasil akhirnya seperti apa, kondisinya saat itu adalah kita akan bermain nothing to lose karena tahu akan melawan siapa.
Singkat cerita, semua orang main bagus saat itu walaupun harus kehilangan salah satu pemain. Dengan kiper baru pengganti kiper lama (yang cedera tetapi ngotot main bukan jadi kiper). Salah seorang teman gue juga sempat cedera karena jatuh ketiban lawan dan entah-apa-nya-kenapa-gitu. Kita kalah 6-3.
Menurut gue itu udah lebih baik dari kekalahan yang gue perkirakan.

Pertandingan keempat, lawan kita adalah jurusan Komunikasi. Salah satu tim yang enggak bisa dipandang enteng. Tetapi disini si teman yang dapat kartu merah karena sudah boleh bermain lagi jadinya semangat semua orang pun naik. Apalagi dia terus menerus bilang harus menang.
Awal-awal pertandingan cukup alot karena keduanya bertahan dengan baik. Babak pertama dilewati skor 5-3, kom unggul dibandingkan politik. Memasuki babak kedua suasana sudah mulai panas. Apalagi tiba-tiba salah satu senior gue yang baru saja mulai bermain tiba-tiba tertendang pelipis matanya dan berdarah. Suasana mulai panik dan segera saja dia dilarikan ke rumah sakit untuk dijahit lukanya. Karena kejadian itu tensi pemain gue mulai naik dan skor pun seimbang 5-5. Sempat terjadu adu-aduan skor yang cukup alot dengan waktu yang sangat singkat karena sebentar lagi babak kedua berakhir. Sayangnya kom sempat memasukan satu bola, belum sempat jurusan gue membalasnya tiba-tiba sempat terjadi kericuhan yang lumayan memakan waktu. Tak lama kemudian, babak kedua berakhir dan lagi-lagi kita semua kalah karena waktu dengan hasil akhir 6-5.

Walaupun begitu gue lumayan merasa bahagia karena permainan mereka bagus-bagus. Memang sih kita kalah tetapi masih ada tiga pertandingan lagi yang akan kita lewati, dan gue lumayan optimis.
Lagipula setelah mengobrol dengan mereka, jaman kita untuk futsal itu memang bukan semester ini. Kalau dibandingkan dengan lawan-lawan yang masih memakai pemain lama (rata-rata angkatan 2005, 2006 dan 2007) dari jurusan gue yang main itu masih muda-muda (rata-rata angkatan 2007. 2008, 2009). Which means, dari segi pengalaman dan umur aja udah beda jauh.

Dan seperti yang gue tulis di atas, dibandingkan menang atau kalah yang paling penting adalah perjuangan mereka semua melewatinya.
All I can say is I’m so proud for all of you :)
Semangat buat pertandingan selanjutnya!

4 komentar:

elia|bintang mengatakan...

it's not about winning. it's how you play :D

tammi prasetyo mengatakan...

@eliabintang: exactly yes, bro!

Anita Prabowo mengatakan...

kulitnya hitam manis dan cuma keliatan kaosnya aja?
*mikir*
hmmm, Disna, ya? :p

tammi prasetyo mengatakan...

@anita: hahaha pemikiran yang tajam ;pp

 
;