If there’s one thing every kid learns growing up, it’s that life is a series of risks.It’s a cause and effect relationship. Nothing ventured, nothing gained.
Still, with the proper guidance we learn to deal with the risks.
Pretty soon we set out into the world, sure in our options,
confident in our choices.
— The Wonder Years
Pada hari Sabtu, di tengah salah satu acara hm gue yang memilih lokasi di negeri antah berantah bernama sawangan.
Di tengah padang rumput yang luas, dengan angin semilir ditambah teriknya matahari yang membuat ngantuk, memaksa gue untuk istirahat sejenak dari segala macam pikiran yang berlari-lari menghantui.
Dan ketika badan ini tidur atas rerumputan, mau tidak mau mata gue memandang ke atas ke hamparan langit biru jernih yang luas tanpa batas. Keheningan seketika itu menyergap, dan entah kenapa tidak ada yang ingin membuat suara.
Memang benar, dalam segala kehidupan kita memerlukan titik dan koma untuk sekedar berhenti dan melihat sudah sampai sejauh mana kita berlalu. Kalimat tidak bisa dipersatukan tanpa titik dan akan kehilangan pesannya karena menjadi bias. Tidak semua bisa dikerjakan terus menerus tanpa kita memberikan waktu istirahat bagi diri kita sendiri.
Dan siang itu, momen di saat gue sengaja berhenti dari segala macam kegiatan yang menyergap. Hanya butuh 10 menit memandang hamparan langit luas, berhenti untuk mengucapkan syukur karena gue diberikan kesempatan yang mungkin tidak akan datang dua kali. Bersyukur atas segala hal yang telah gue lalui.
Walaupun hari esok terlihat lebih kelam, lebih gelap dan lebih berat dari hari-hari kemarin, tetapi gue tahu karena melalui itu semua lah kita akan semakin kuat.
That’s how we are survive.

2 komentar:
aku seneng baca postingan kamu ini tam
aku jadi ingat waktu touring naik motor pas kuliah.
ke negeri antah berantah,
capek.
wajah item kena asep knalpot bus bus yg lewat.
tapi tetep.
sedaaapp..
@denny: iya bang, mungkin lain kali gue harus coba 'kabur' dari rutinitas buat rehat sejenak haha
Posting Komentar