3.13.2010
"sejarah diceritakan berdasarkan siapa penguasa saat itu"
Selama tiga hari di minggu kemarin ada satu acara menarik di FISIP, yaitu PEKAN TUTUR PEREMPUAN. Selain karena acara itu dibuat oleh beberapa senior gue dan dosen-dosen gue yang memang peduli dan concern tentang masalah perempuan, ternyata isi dari rangkaian acara ini juga sangat menyenangkan.
Berbicara tentang perempuan di Indonesia, kita tidak bisa melepaskan hal itu dengan sebuah kenyataan yang seringkali dikaitkan dengan pelanggaran HAM. Yang paling sensasional dan yang sampai sekarang penyelesaiannya belum jelas tentu saja tentang kasus korban 65. Kasus penangkapan perempuan-perempuan yang seringkali dikaitkan dengan Gerwani. Salah satu pelanggaran HAM besar-besaran yang terjadi di Indonesia, dilihat dari perspektif perempuan. Maka dari itu tema besar acara tersebut tentang korban 65.
Gue bertemu dengan perempuan-perempuan hebat hari Rabu kemarin. Umur memang sudah di atas 70 tahun, tetapi yang paling utama adalah semangat hidup dan berjuang mereka sangatlah tinggi. Para eyang-eyang itu adalah saksi serta korban hidup yang sangat berani dalam mengungkapkan pengalaman yang mereka alami. Menceritakan bukanlah sekadar dalam mencari simpati, tetapi mengingatkan akan peristiwa yang pernah mereka alami dan berkata bahwa kasus yang mereka alami belum mendapatkan keadilan hukum secara jelas. Bukan hal yang tidak mungkin kalau apa yang mereka alami akan dapat dialami oleh perempuan-perempuan lainnya di waktu yang akan datang.
Cukup selama sepekan itu gue mendapatkan pengalaman dan ilmu yang sangat berharga. Mengingatkan gue kalau perjuangan mereka tidak akan terhenti, perjuangan itu harus terus dilanjutkan.
Bahwa berbicara di atas agama sama saja omong kosong kalau kalian yang berbicara tentang agama tidak memiliki moral di atas kemanusiaan.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)


2 komentar:
i always love your post :D
but this is more than love.
:D
cool.
@denny: ahahaha... jadi malu, :)
makasih ya bang!
Posting Komentar