“Untuk apa seseorang tahu sesuatu kalau memang tidak ada yang bisa diubah?”
Ia tersenyum. “Pertanyaan bagus,” ucapnya lembut sambil menunduk, seolah berbicara pada dirinya sendiri. “Barangkali yang lain ingin menanggapi?” Ia mengedarkan pandangan.
Tak ada yang menjawab.
“Sepertinya itu pertanyaan semua orang yang punya pengalaman dengan firasat,” tuturnya pelan, “kita tak tahu dan tak pernah pasti tahu hingga semuanya berlalu. Benar atau salah, dituruti atau tidak dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan cuma waktu. Dan itu membuat kita kadang bertanya: lalu, untuk apa? Untuk apa diberi pertanda jika ternyata tak bisa mengubah apa-apa? Untuk apa tahu sebelum waktunya?” ia menghela napas, matanya menemukan mataku, “Memang tidak mudah menerima pertanda, menerima diri kita yang dikirimi pertanda, dan menerima hidup yang mengirimkan pertanda. Firasat tidak menjadikan kita lebih pandai dari yang lain. Seringkali firasat justru menjadi siksa,” lanjutnya.
“Jadi untuk apa kita semua ada di sini?” tanyaku.
“Untuk belajar menerima,” jawabnya dengan senyum, “saat kita belajar menerima, kita juga belajar berdamai. Melalui firasat kita belajar menerima diri, dan berdamai dengan hidup ini,”.
Rectoverso:Firasat-Dewi ‘Dee’ Lestari
Sedikit cuplikan dari ‘bagian’ favorit gue di Rectoverso:Firasat.
Entah untuk yang keberapa kali gue membacanya berulang-ulang, mendalaminya, memaknainya, menangisinya, dan mengucapkannya seakan-akan kalimat terakhir itu adalah mantra. Ada kekuatan tersendiri dalam setiap kata yang tertulis di bagian tersebut.
Saat ini, di suatu malam yang dingin sehabis gempa melanda siang tadi, gue butuh sedikit kekuatan. Agar gue bisa bertahan dan percaya dengan keyakinan yang saat ini gue pegang.
[currently listening: Lala-What about you
currently reading: Rectoverso-Dewi Lestari]
currently reading: Rectoverso-Dewi Lestari]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar