
Elo semua pasti pernah ngalamin yang namanya sakit hati. Ergh, rasanya enggak enak banget pasti kan. Kalo elo tanya apakah gue lagi sakit hati saat ini, gue pasti bakal jawab iya dengan semangat. Kalo dihubungkan dengan masalah percintaan, no you wrong.
Then, elo sakit hati kenapa sih Tam?
Jadi gini, asal lo semua tau aja Depok itu jaraknya enggak terlalu jauh amat dari Jakarta. Cuman beberapa minggu ini gue ngerasa kalau Depok dan Jakarta itu bagaikan dua buah daerah yang sangat amat jauuuuuh sehingga perbedaan di antaranya sangat terasa.
Elo bayangin aja, setiap sore di Depok selalu hujan deras ditambah petir-petir yang menakutkan. Fyi, Depok merupakan satu kota yang tingkat konsentrasi petirnya paling tinggi di Asia Tenggara. Makanya, enggak heran kalau hujan di Depok tanpa petir itu bagaikan makanan tanpa garam.
Tawar, tidak ada rasa, yah datar-datar aja.
PADAHAL, hujannya aja udah kayak mau ngajak ribut. Angin bertiup dengan kencang. Memakai payung pun rasanya percuman karena tetesan air hujan bakal tetap mengenai diri elo. Yang paling bagus sih kayaknya kalo di Depok hujan, elo pake mantel hujan sama sepatu boots.
Pernah pada suatu sore menuju malam gue terjebak di MBRC (Miriam Budiarjo Research Center), perpustakaan di FISIP. Gue duduk di meja belajar, memandang keluar jendela yang pemandangannya langsung sebuah taman dan paranoma langit hitam kelam. Dari kejauhan gue lihat petir saling bersahut-sahutan layaknya remaja yang kasmaran. Kemudian pohon-pohon yang besar bergoyang-goyang mengikuti irama angin yang bagaikan di konser musik metal. Gue cuman bisa bengong dan speechless, abis itu sms ibu gue bilang kalo di Depok hujan gede dan enggak tau kapan bisa pulangnya.
Kemudian, pulanglah gue menaiki kereta menuju Jakarta bersama si Aida. Kebetulan banget supirnya mau jemput adeknya Aida di daerah Cikini, jadilah gue sekalian menebeng ke Cikini. Turun dari kereta ke stasiun Gondangdia (kalo ga salah waktu itu), gue bengong sebengong-bengongnya. Badan gue bisa dibilang lumayan basah kena hujan, gue masih merasakan aroma dinginnya depok di diri gue. Tapi, Jakarta menampilkan hal yang berkebalikan. KERING AJA GITU, enggak ada basah-basahnya sama sekali. Meeeeen, di Depok hujan badai sementara di Jakarta kering kerontang seolah jarak yang hanya beberapa kilometer itu tidak berpengaruh atas perbedaan fenomena alam.
Itu enggak cuman sekali. Udah beberapa hari ini TIAP SORE Depok pasti selalu hujan deras. Kayak hari rabu ini nih, di Depok hujan dereeeeeeeeeessss banget sampe jalanan tergenang air. Gue yang berlari-lari dari mobil temen gue ke stasiun aja enggak bisa menyelamatkan kaki gue dari genangan air. Otomatis, sepatu dan kaos kaki gue basah. Yah, udah terlanjur basah guenya juga males beli sendal baru. Bodo amat dah gue beli tiket kereta (dan lagi-lagi bersama Aida). Semua orang kedinginan, kehujanan, dan pasrah dengan keadaan. Dan saat gue turun di stasiun Tebet, gue lagi-lagi bengong.
Enggak ada tuh yang namanya orang menenteng payung basah, enggak ada tuh genangan air setitiiiiik aja, enggak ada tuh orang yang sekujur tubuhnya kehujanan!
WAAAAAA.... dan gue cuman bisa teriak.
[currently listening: Live High-Jason Mraz
currently reading: maleesss
currently reading: maleesss

Tidak ada komentar:
Posting Komentar