Oke, mungkin masih banyak yang belum ngeh daritadi gue ngomong apa. Jadi, gue sekarang lagi memegang jabatan koordinator acara TRIBUTE TO PROF HELMI.
Acara apa tuh, Tam?
Itu adalah acara penggalangan dana untuk salah satu professor gue. Namanya Ahmad Suhelmi. Sudah dua tahun ini (kalau ga salah) beliau menderita penyakit di ginjal sehingga mengharuskan beliau bolak-balik ke rumah sakit seminggu tiga kali untuk mencuci darah. Dan kemudian akhirnya beliau di vonis gagal ginjal sehingga mau tidak mau beliau harus melakukan pencakokan ginjal. Yang tentu aja, operasi pencakokan ginjal itu mahaaaaal banget. That’s why diadakan acara TRIBUTE TO PROF HELMI ini.
Dua minggu pertama gue ditempatkan di jabatan ini, gue bingung mau ngapain. Yah maklum lah, gue belum pernah mengorganisir acara apapun. Awalnya sih gue mikir ‘ah masih ada koordinator acara I ini’ (yeah gue koordinator acara II), jadi pasti gue bakal bantu-bantuin dia aja. Eh ternyata semua itu hanya khayalan, hehehe. Intinya gue pun yang menghandle acara itu. Tentu aja dengan dibantu berbagai macam banyak pihak dong ya, secara gue masih si anak bawang gini.
Salah satu dari acara itu gue pun membuat project untuk membuat film. Film pertama sih, tadinya mau tentang film profilnya Prof Helmi. Tapi berhubung waktu udah mepet jadinya project film pertama gagal (eh tapi ada senior gue yang mau ngelanjutin film profilnya lho, yah goodluck deh kak! hehe). Film kedua adalah film testimoni rekan-rekan terdekatnya Prof Helmi, which means dosen-dosen gue. Dari sinilah gue mengenal sosok Prof Helmi itu sendiri seperti apa . . .
Kemudian, kita juga punya group di facebook untuk acara TRIBUTE ini sendiri. Secara yang pasti diundang kan alumni-alumni. Thanksgod, thanks facebook, yah walaupun ga banyak alumni yang tahu tapi paling enggak ada beberapa yang kejaring melalui situs facebook tersayang ini.
Dan dari group inilah gue belajar mengenal Prof Helmi itu sendiri. Gue sebarin message untuk mereka agar memberikan testimonial untuk Prof Helmi. Dan dari testimonial itu lah gue belajar mengenal Prof Helmi.
Lama-kelamaan, gue mulai jadi penasaran akan sosok Prof Helmi itu sendiri. Siapa sih beliau? Bagaimana sih beliau ketika mengajar di kelas? Benarkah seperti yang senior-senior bilang kalau beliau adalah orang yang baik dan ketika mengajar menggunakan pemahaman yang mudah dimengerti (oh iya, Prof Helmi mengajar pemikiran politik barat lho, dan itu salah satu mata kuliah yang sulit katanya).
Dari komentarnya Mas Eep sampai ke Prof Maswadi, ceritanya Mas Cecep sampai ke Mbak Efi... gue pun jadi PENASARAN!
Apalagi gue koordinator acara, gue yang ‘membuat’ dan ‘meramu’ TRIBUTE untuk disuguhkan ke hadirat keluarga Ilmu Politik UI (baik S1, S2, Ekstensi, Pasca) yang sebelumnya telah mengenal lebih Prof Helmi dibandingkan ke gue yang notabene sama sekali belum mengenal Prof Helmi seperti apa. Tanggung jawab pun mulai terasa di pundak gue. Orang-orang pasti akan datang dengan berbagai macam ekspektasi.
Gue enggak akan mungkin mengkonsepkan acara ini tanpa mengenal orang yang gue buatkan acara ini, ya kan? Maka dari itu, berhubung gue juga harus mengerjakan project film, gue dan kak Ucup (PO Tribute) membuat janji dengan Prof Helmi. Dan Prof Helmi menyanggupi...
Maka, hari sabtu, setelah gue selesai ke acara pernikahannya anaknya sahabat ibu gue (dengan masih memakai dress batik, high heels yang suitable buat kondisi apapun) gue pun berkunjung RS UKI. Rumah sakit tempat Prof Helmi menjalani proses cuci darah.
And how was it?
Mungkin gue enggak bisa menceritakan secara mendetail. Satu hal yang gue syukurin dari hari ini adalah kondisi Prof Helmi sedang fit-fitnya. Tadinya gue khawatir kalau Prof Helmi sedang dalam kondisi yang enggak bagus. Yah you know, kalau penyakit gitu kan kesehatan sangat gak menentu.. kadang sakit.. kadang sehat
Gue mengobrol banyak dengan Prof Helmi. Sebelumnya tentu aja gue memperkenalkan diri sebagai mahasiswi semester dua karena takutnya beliau cerita macem-macem tapi gue enggak mudeng sama ceritanya, hehe. Dia cerita tentang aktifitasnya selama sakit ini. Cerita tentang buku-buku yang dia buat, buku yang di plagiat orang lain. Ngobrol sama istrinya. Main sama anaknya paling kecil...
So, today is quite fun.
Dalam hati sebenarnya gue sedih sih melihat kondisi Prof Helmi. Semakin menambah kesedihan gue ketika gue mendengar ‘doa&harapan’ dosen-dosen lain untuk Prof Helmi. Semakin sedih ketika gue berharap semoga gue masih mendapatkan kesempatan untuk diajar oleh beliau . . .
dan segala ungkapan emosi gue diatas makin memacu gue untuk mengerjakan acara TRIBUTE TO PROF ini. Tribute mungkin hanya sedikit dari satu hal yang bisa gue lakukan. Dengan mengadakan Tribute gue harap dapat membantu dan menggerakan orang-orang menyumbang agar dana operasi pencakokan ginjal terkumpul. . .
Walau masih banyak kekurangan di sana-sini.
Tapi semoga acara ini berjalan lancar dan sukses...
amien.
gue mohon doanya ya kawan-kawan :)
baik untuk acara ini dan kesembuhan Prof Helmi
[currently listening: How can you mend a broken heart- Al Greene
currently reading: Kompas, Minggu 29 Maret 2009]
currently reading: Kompas, Minggu 29 Maret 2009]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar