
Gue masih ingat, ketika gue kecil sampai memasuki umur 17 tahun gue bukanlah anak perempuan yang gampang menangis. Atau bisa dibilang, gue tidak pernah menangis. Atau bisa dibilang, gue selalu menahan diri untuk menangis. Entah karena tidak mau terlihat lemah atau tidak mau dikatai cengeng.
Pertama, gue melewati masa-masa ABG (sekitar SMP) yang cukup berat. Enggak, bukan masalah sepele gue kelebihan berat badan dan muka jerawatan. Adalah suatu masalah yang its hard to tell even in words. Bahkan closest friends gue enggak ada tahu (ha-ha). Menurut gue wajar, kalau kau menyimpan masalah untuk dirimu sendiri dan tidak membaginya kepada orang lain, ya kan?
Kedua, gue berada di lingkungan pertemanan yang memang jarang menangis. Yah, mereka orang-orang kuat . . . atau terlalu cuek sebenarnya. Itulah kenapa gue suka berteman dengan mereka. Seperti kata ibu gue, sahabat yang baik adalah sahabat yang mengatakan tidak ketika memang harus dikatakan. Bukan sahabat yang mengatakan iya padahal tahu itu berakibat buruk bagi dirimu. Gue enggak heran kalau ada orang yang heran kenapa gue dan sahabat-sahabat gue itu enggak memiliki kemiripan sama sekali. Basi kali kalau sahabatan karena memiliki sifat-sifat yang mirip.
Sekarang, entah kenapa gue menyadari gue adalah tipikal orang yang gampang terharu. Gue paling lemah dengan cerita keluarga, dibanding kisah-kisah cinta. Kalau gue nonton film keluarga terus happy ending, gue (entah kenapa) pasti menitikan air mata. Dibandingkan diri gue yang dulu yang harga dirinya tinggi itu . . . hahaha! Rasanya, waktu kecil dulu gue lebih bisa menahan emosi dibanding sekarang.
Katanya, gue mulai bisa merasakan ‘cinta’ yang ada di sekeliling gue makanya hati gue gampang meleleh.
Kalau menurut gue, inilah bentuk lebih kemanusiawian gue (bukan berarti yang jarang nangis enggak manusiawi lho!). Habis bisa dibilang, dulu gue jarang mengeluarkan ekspresi macam-macam. Dulu, gue selalu mengikuti keinginan orang. Seperti bernafas di dalam air, dimana gue enggak bisa menjadi diri gue sendiri. Menjadi diri gue yang macam-macam.
Dan... makanya gue merasa bahagia ketika (akhirnya) gue menemukan sahabat-sahabat gue itu. Sahabat-sahabat yang berbagai tipe itu dan tersebar dimana-mana. Memang, pertemuan ini takdir kali ya?
Kalau enggak, gue mungkin masih gue yang dulu yang tidak menjadi diri sendiri. Ckckck, benar-benar pergolakan masa muda yang penuh perjuangan.
ps: guys, if you read it. Pleaseeeeeeeeeeee, comment ya! sumpah! sumpah! gue kangen banget sama kalian semua ;(

5 komentar:
woh jadi pengen umur 17 lagi hihihih .. baru lewat 17 loh gue ahahaa ..
eh eh, masa2 ABG lo pas smp? duh kasian banget sih,, gue aja baru ABG nih, anak baru gaul hahaha
ng, tam..
entah kenapa ya, gw juga makin gede jadi makin melankolis..
hmm..
@bena: ciee bena gaul!
@rind: yiahahaha, hidup makin tua makin melankolis!
tami,
am i one of the friends you refer there?
if yes, you too are a part of the treasures in my life.
gw nangis bacanya hehe.
i miss you too!
@anonim: heh ibu kenapa enggak ninggalin nama? huhuhuhuhuu thanks udah comment, i really appreciate it! :) kangen juga
Posting Komentar