1.01.2009

menerima & memahami

Kemarin-kemarin gue pernah membaca note di facebook tentang antara menerima dan memahami. Yang menulisnya adalah salah satu senior gue di Politik. Enggak tau kenapa note di facebook agaknya berubah fungsi menjadi ‘seperti’ blog. Banyak temen gue memilih untuk menulis di note facebook alih-alih blog. Yah, selain lebih efektif (karena lo nulis bisa sekalian main di facebook) juga tentu aja elo bisa tag-tagin temen-temen lo buat baca note lo. Sebenarnya enggak usah di tag semua orang masih bisa baca, hanya aja dengan tag jadinya lebih seperti ‘oy baca note gue dong’. Hahaha...
btw gue terkadang juga nulis di note facebook gue.

Back to the topic about antara menerima dan memahami. Awalnya gue enggak terlalu ngeh dan otak gue langsung berujar cepat ‘yah tentu aja gue lebih menginginkan orang yang memahami gue dong!’.
Tetapi emang ada orang yang benar-benar sangat memahami lo, tam?
Diri lo sendiri aja belum tentu memahami kemauan diri lo, gimana dengan yang lain?

Mungkin dengan menerima seseorang apa adanya pelan-pelan kita bisa memahami dan mengerti tentang orang tersebut. Menerima segala kekurangan serta kelebihan, sungguh sulit di dapat pada jaman sekarang. Di jaman dimana semuanya melakukan sesuatu atas dasar pamrih. hhhh

Mungkin yang bisa gue lakukan adalah gue mencoba menerima diri gue apa adanya terlebih dahulu. Kan enggak lucu juga gue masih ngeluh tentang segala kekurangan gue terus masih juga berharap akan ada orang yang mau menerima gue apa adanya.
Setelah bisa menerima diri ini dengan baik, tentunya gue juga akan menerima segala kekurangan dan kelebihan orang-orang di sekitar gue. Karena gue juga mau diterima oleh mereka, dengan segala kekurangan serta kelebihan gue. Jangan hanya mereka melihat kelebihan gue sesaat dan pudar ketika kekurangan gue muncul.

Well, we are only human, people.
Manusia, mahluk Tuhan, yang gampang berbuat salah.

Gue akuin gue bukanlah orang yang gampang dalam mengungkapkan perasaan atau sesuatu. Gue lebih suka menjawab ‘ya’ dan ‘tidak’ dan enggan menjelaskan alasannya kenapa gue menjawab seperti itu. Bagi gue, kedua options di atas adalah merupakan final. Yah, mungkin, tidak semua orang beranggapan sama seperti gue. Mungkin kalau gue di posisi mereka, gue juga akan bertanya-tanya alasan di baliknya. Yang, you know, sulit untuk diungkapkan itu justru malah bikin penasaran. Dan tampaknya gue memang berhasil membuat penasaran beberapa pihak.

Dan akhirnya...
itulah gue

Ada saatnya gue akan menjelaskan alasannya ketika mengucapkan alasan itu memang gampang. Ada kalanya lebih baik gue ditelan bumi dan tidak menjelaskan alasannya. Ah, tenang saja, bukan hal yang memalukan sebenarnya. Cuman, seperti yang gue bilang, gue bukan orang yang gampang menjelaskan atau mengungkapkan sesuatu.

Semoga, kalian mengerti

Dan untuk yang lain-lain yang lebih tua umurnya daripada gue, ooh, gue mencoba mengerti. Atas sikap, yang menurut gue, tidak dewasa itu. Tetapi ya sudahlah. Sekali lagi, kita ini kan hanya manusia biasa. Gue menerima mereka apa adanya kok. Dan gue harap mereka juga begitu...
Karena yang lebih belum tentu baik dan yang kurang belum tentu buruk.

Tidak ada komentar:

 
;