10.01.2008

SILENT IED

a lot of thing change
itu yang gue rasakan dalam Ramadhan tahun ini
contoh simple adalah setiap tahunnya Mbah Kakung, Ayah dari Ibu, yang tinggal bersama gue selalu mendapatkan kartu Lebaran kiriman dari Solo. Pengirimnya adalah Eyang Papi, Ayah dari Bapak. Sebuah cara merekatkan silahturahmi para orang tua (kakek-kakek) antara besanan.
Simple dan sungguh dinanti.
Berhubung Mbah saya sudah tua dan tidak ngeh bila dikirimi surat, gue yang selalu menerima kartu itu dan tersenyum sendiri karena sekitar 20 jam ke depan gue akan mengunjungi Eyang gue di Solo.
Tetapi, semenjak tahun lalu, kebiasaan itu terhenti.
Saat Ramadhan tahun lalu, Eyang di opname... dan beberapa hari setelah Lebaran (saat Bapak saya pulang ke Solo, saya tidak) Eyang Papi meninggal.
Tahun ini sudah tidak ada kartu yang terkirim...

Gue juga lupa akan kebiasaan kartu Lebaran itu. Ketika melihat kartu Lebaran yang tergeletak di meja yang ditujukan untuk Mbah gue, gue tiba-tiba teringat akan kartu-kartu Lebaran kiriman Eyang. Terbayang Eyang Papi yang membeli beberapa kartu Lebaran untuk dikirim ke relasi-relasinya, ke kawan-kawannya. Menulis sendiri ucapannya. Berjalan ke kantor pos dan mengirimkannya ke alamatnya.
Sebelumnya gue belum pernah membayangkan keadaan Eyang Papi.

Tahun ini, Mbah gue yang di Cibubur meninggal. Minggu lalu, sekitar hari Rabu. Entah ya, tapi setiap Ramadhan mulai dari dua tahun lalu pasti orangtua di keluarga gue satu persatu meninggal.
I can say nothing deh

Sekarang sudah jam dua pagi, tinggal beberapa jam lagi gue akan bersiap untuk sholat ied. Tahun ini gue kurang mendapatkan feel akan ramadhan itu sendiri.
Kenapa ya?
Yah tampaknya gue lagi di masa-masa remaja sedang kurang baik hubungannya dengan orang tua. Lagi suka merasa benar sendiri dan tidak mendengarkan nasihat orang tua.
In short, gue lagi egois-egoisnya.
Hehehe

oke deh
happy Ied kawan!

Tidak ada komentar:

 
;